

Psikologi Konsumen

Psikologi Konsumen

Psikologi Konsumen
Definisi Psikologi Konsumen
Psikologi Konsumen adalah studi tentang perilaku manusia, mengenai pola pembelian, kebiasaan, dan preferensi mereka, dalam hubungannya dengan produk konsumen, termasuk reaksi dan preferensi mereka terhadap iklan, pengemasan, dan pemasaran produk tersebut.

FAQ Psikologi Konsumen
Apa itu Psikologi Konsumen?
Psikologi konsumen adalah bidang studi yang memanfaatkan banyak disiplin ilmu, termasuk psikologi sosial, pemasaran, ekonomi perilaku, dan bidang lainnya untuk membantu memahami konsumen. Konsep-konsep psikologi konsumen bertujuan untuk mengevaluasi dan memahami konsumen serta proses pengambilan keputusan. Faktor psikologis yang memengaruhi perilaku konsumen seperti demografi, kepribadian, gaya hidup, dan variabel perilaku seperti tingkat penggunaan, kesempatan penggunaan, loyalitas, advokasi merek, dan kesediaan untuk memberikan rujukan semuanya dipelajari dalam riset pasar.
Apa Pentingnya Psikologi Konsumen?
Memahami faktor psikologis yang memengaruhi perilaku konsumen adalah tantangan utama bagi pemasar dan pemilik bisnis. Riset tentang perilaku konsumen berkaitan dengan pemahaman tentang bagaimana keputusan pembelian dibuat, siapa yang membeli produk tertentu, dan bagaimana produk atau layanan dikonsumsi atau dialami. Penelitian telah menunjukkan bahwa peran psikologi dalam budaya konsumen mungkin sulit diprediksi, bahkan bagi para ahli di bidang tersebut. Namun, metode penelitian baru seperti etnografi dan pemasaran saraf (consumer neuroscience) memberikan titik terang baru tentang bagaimana konsumen membuat keputusan, terutama dalam menilai kesenjangan niat-tindakan, yaitu perbedaan antara apa yang dikatakan konsumen dan apa yang sebenarnya mereka lakukan.
Pemasaran Sosial, Pemasaran yang Disesuaikan (Customized Marketing), belanja barang bermerek, dan persepsi konsumen terhadap harga komoditas (yang secara langsung dinyatakan sebagai sensitivitas konsumen terhadap harga), semuanya merupakan faktor utama untuk memahami sikap konsumen dan membantu menjelaskan reaksi permintaan pasar terhadap perubahan harga.
Selain itu, mengembangkan hubungan yang baik dengan audiens target sangat penting untuk manajemen merek. Elemen berwujud dari manajemen merek mencakup produk atau layanan itu sendiri, tampilan, harga, dan kemasannya, dll. Elemen tidak berwujud adalah pengalaman yang dibagikan konsumen dengan merek tersebut, dan juga hubungan yang mereka miliki dengan produk atau layanan merek tersebut. Riset pasar ini dapat membantu manajer merek merancang strategi merek dan periklanan yang paling efektif dan positif.

Sejarah Psikologi Konsumen
Sebagian besar hubungan antara psikologi dan konsumerisme dikaitkan dengan Walter Dill Scott dan studinya pada awal tahun 1900-an. Sebagai direktur Laboratorium Psikologi di Northwestern, Scott didekati oleh seorang eksekutif periklanan yang ingin meningkatkan upaya pemasarannya. Scott pertama kali menulis tentang subjek gabungan ini pada tahun 1903 dengan bukunya The Psychology of Advertising in Theory and Practice, dan terus fokus pada penerapan pengetahuan ilmiah dalam masalah bisnis. Scott mendedikasikan bagian akhir kariernya untuk meneliti metode kontrol sosial dan motivasi manusia.
Perilaku dan psikologi konsumen terus bermunculan pada tahun 1940-an dan 50-an sebagai sub-disiplin ilmu yang berbeda dalam bidang pemasaran. Pada akhir tahun 1950-an, dua laporan penting mengkritik pemasaran karena kurangnya keketatan metodologis, terutama kegagalan dalam mengadopsi metode penelitian ilmu perilaku yang berorientasi matematis.
Sejak tahun 1950-an, pemasaran arus utama mulai mengalihkan ketergantungannya dari ilmu ekonomi ke disiplin ilmu lainnya. Hal ini terutama mencakup ilmu perilaku, termasuk sosiologi, antropologi, dan psikologi klinis. Kombinasi ini membawa penekanan baru pada pelanggan sebagai unit analisis. Sebagai hasilnya, pengetahuan substantif baru ditambahkan ke dalam disiplin ilmu pemasaran. Ini mencakup gagasan seperti kepemimpinan opini, kelompok referensi, dan loyalitas merek.
Segmentasi pasar, terutama segmentasi demografis berdasarkan indeks status sosial ekonomi dan siklus hidup rumah tangga, juga menjadi tren. Dengan tambahan perilaku dan psikologi konsumen, disiplin ilmu pemasaran menunjukkan kecanggihan ilmiah yang meningkat terkait prosedur pengembangan dan pengujian teori-teori psikologi konsumen. Baru-baru ini, para akademisi telah menambahkan serangkaian alat baru seperti etnografi, teknik stimulasi foto (photo-elicitation), dan wawancara fenomenologis.
Saat ini, perilaku konsumen dianggap sebagai disiplin ilmu yang penting dalam pemasaran dan dimasukkan sebagai unit studi di hampir semua program pemasaran tingkat dasar.
Apa saja pengaruh psikologis pada pengambilan keputusan konsumen?
Determinan psikologis dari perilaku konsumen atau motivasi mendasar konsumen mendorong tindakan konsumen. Proses ini dapat mencakup pencarian informasi dan keputusan pembelian. Sikap konsumen terhadap suatu merek (atau preferensi merek) digambarkan sebagai hubungan antara merek dan motivasi pembelian. Motivasi psikologi perilaku konsumen dapat bersifat negatif: yaitu untuk menghindari rasa sakit atau ketidaknyamanan. Motivasi juga bisa positif: yaitu untuk mencapai beberapa jenis penghargaan seperti kepuasan sensorik.
Salah satu pendekatan untuk memahami kedua jenis motivasi ini dikembangkan oleh Abraham Maslow. Hierarki kebutuhan Maslow menggambarkan lima tingkatan kebutuhan berdasarkan tingkat kepentingannya. Pendekatan Maslow adalah model umum untuk memahami motivasi manusia dalam berbagai konteks. Penerapan model Maslow pada bidang ini menunjukkan hubungan erat antara psikologi sosial dan teori-teori budaya konsumen. Pendekatan lain mengusulkan delapan motivasi pembelian, termasuk lima motif negatif dan tiga motif positif.
Dalam literatur pemasaran, motivasi konsumen untuk mencari informasi dan keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan pembelian terkadang dikenal sebagai 'keterlibatan' (involvement). Keputusan pembelian diklasifikasikan sebagai 'keterlibatan rendah' ketika konsumen menanggung kerugian psiko-sosial yang kecil jika mereka membuat keputusan yang buruk. Keputusan pembelian diklasifikasikan sebagai keterlibatan tinggi ketika risiko psiko-sosial dianggap relatif tinggi. Tingkat keterlibatan konsumen bergantung pada beberapa faktor. Ini dapat mencakup risiko konsekuensi negatif yang dirasakan jika terjadi keputusan yang buruk, kategori produk, visibilitas sosial produk, dan pengalaman konsumen sebelumnya dengan kategori tersebut.
Beberapa pakar berpendapat bahwa gaya pengambilan keputusan mendasar tertentu dapat diidentifikasi. Sproles dan Kendall (1986) mengembangkan teori psikologi konsumen yang terdiri dari delapan faktor dalam proses pengambilan keputusan. Faktor-faktor ini meliputi sensitivitas harga, kesadaran kualitas, kesadaran merek, pencarian kebaruan, kesadaran mode, dan kebiasaan.
Berdasarkan faktor-faktor ini, para penulis mengembangkan tipologi dari delapan gaya pengambilan keputusan yang berbeda. Ini termasuk gaya 'Sadar kualitas atau Perfeksionis', gaya 'Sadar merek', gaya 'Sadar rekreasi atau Hedonistik', dan gaya 'Sadar harga'. Juga termasuk gaya 'Sadar kebaruan atau mode', gaya 'Impulsif', gaya 'Bingung (oleh terlalu banyak pilihan)', dan gaya pengambilan keputusan 'Terbiasa atau loyal pada merek'.
Apa itu Psikologi Konsumen Terapan?
Psikologi konsumen terapan adalah penerapan pengetahuan teoritis dari riset psikologi konsumen ke kehidupan sehari-hari yang nyata, atau dalam kasus merek, manajemen merek dan aktivasi pemasaran. Dalam pemasaran, manajemen merek adalah analisis dan perencanaan yang berkaitan dengan bagaimana suatu merek dipersepsikan di pasar. Mengembangkan hubungan yang baik dengan audiens target sangat penting untuk manajemen merek.
Elemen berwujud dari manajemen merek mencakup produk atau layanan itu sendiri; tampilan, harga, dan kemasannya, dll. Elemen tidak berwujud adalah pengalaman yang dibagikan konsumen dengan merek tersebut, dan juga hubungan yang mereka miliki dengan produk atau layanan merek tersebut. Seorang manajer merek mengawasi semua aspek asosiasi merek konsumen, serta hubungan dengan anggota rantai pasokan.
Bagaimana Psikologi Konsumen Digunakan oleh Pemasar?
Riset pasar terhadap faktor psikologis yang memengaruhi perilaku konsumen dapat menginformasikan bagaimana para pemasar dan manajer merek menginvestasikan waktu dan uang mereka. Manajer merek membuat strategi untuk mengubah prospek potensial menjadi prospek, prospek menjadi pembeli, pembeli menjadi pelanggan, dan pelanggan menjadi advokat merek. Manajemen merek bertujuan untuk menciptakan hubungan emosional antara perusahaan, produk dan layanannya, serta pelanggan dan konstituen mereka. Manajer merek dan manajer pemasaran mungkin mencoba mengendalikan citra merek, dan memahami pentingnya psikologi konsumen dapat membantu keputusan tersebut.
Apakah EMOTIV Menawarkan Produk untuk Riset Psikologi Konsumen?
Consumer neuroscience (juga dikenal sebagai neuromarketing) mengacu pada penggunaan komersial ilmu saraf yang diterapkan pada penyelidikan perilaku konsumen dan riset pasar. Consumer neuroscience menggunakan sensor biometrik canggih seperti elektroensefalografi (EEG) untuk mempelajari cara konsumen merespons rangsangan tertentu. Rangsangan ini dapat mencakup tampilan produk, merek, informasi kemasan, atau sinyal pemasaran lainnya. Pengujian semacam itu mengungkapkan rangsangan mana yang memicu pusat kesenangan di otak.
Temuan riset consumer neuroscience seperti pembingkaian harga atau nilai, kelelahan memilih, dan kelumpuhan keputusan telah memberikan perkembangan penting dalam pemahaman psikologi konsumen. Alat yang ampuh dalam riset pasar insight konsumen ini memberikan akses yang belum pernah ada sebelumnya ke pikiran bawah sadar.
Emotiv menawarkan rangkaian lengkap solusi perangkat keras dan perangkat lunak untuk riset psikologi konsumen. Headset EPOC X EEG dari Emotiv mencakup 14 sensor dalam konfigurasi tetap untuk penyetelan yang cepat dan sederhana. Pengguna dapat melakukan riset secara langsung, dan dengan biaya yang jauh lebih murah daripada perangkat tingkat riset tradisional. Padukan dengan perangkat lunak EmotivPRO untuk melihat tampilan langsung aliran data headset Emotiv, termasuk EEG mentah, metrik kinerja, data gerakan, akuisisi dan kehilangan paket data, serta kualitas kontak.
Definisi Psikologi Konsumen
Psikologi Konsumen adalah studi tentang perilaku manusia, mengenai pola pembelian, kebiasaan, dan preferensi mereka, dalam hubungannya dengan produk konsumen, termasuk reaksi dan preferensi mereka terhadap iklan, pengemasan, dan pemasaran produk tersebut.

FAQ Psikologi Konsumen
Apa itu Psikologi Konsumen?
Psikologi konsumen adalah bidang studi yang memanfaatkan banyak disiplin ilmu, termasuk psikologi sosial, pemasaran, ekonomi perilaku, dan bidang lainnya untuk membantu memahami konsumen. Konsep-konsep psikologi konsumen bertujuan untuk mengevaluasi dan memahami konsumen serta proses pengambilan keputusan. Faktor psikologis yang memengaruhi perilaku konsumen seperti demografi, kepribadian, gaya hidup, dan variabel perilaku seperti tingkat penggunaan, kesempatan penggunaan, loyalitas, advokasi merek, dan kesediaan untuk memberikan rujukan semuanya dipelajari dalam riset pasar.
Apa Pentingnya Psikologi Konsumen?
Memahami faktor psikologis yang memengaruhi perilaku konsumen adalah tantangan utama bagi pemasar dan pemilik bisnis. Riset tentang perilaku konsumen berkaitan dengan pemahaman tentang bagaimana keputusan pembelian dibuat, siapa yang membeli produk tertentu, dan bagaimana produk atau layanan dikonsumsi atau dialami. Penelitian telah menunjukkan bahwa peran psikologi dalam budaya konsumen mungkin sulit diprediksi, bahkan bagi para ahli di bidang tersebut. Namun, metode penelitian baru seperti etnografi dan pemasaran saraf (consumer neuroscience) memberikan titik terang baru tentang bagaimana konsumen membuat keputusan, terutama dalam menilai kesenjangan niat-tindakan, yaitu perbedaan antara apa yang dikatakan konsumen dan apa yang sebenarnya mereka lakukan.
Pemasaran Sosial, Pemasaran yang Disesuaikan (Customized Marketing), belanja barang bermerek, dan persepsi konsumen terhadap harga komoditas (yang secara langsung dinyatakan sebagai sensitivitas konsumen terhadap harga), semuanya merupakan faktor utama untuk memahami sikap konsumen dan membantu menjelaskan reaksi permintaan pasar terhadap perubahan harga.
Selain itu, mengembangkan hubungan yang baik dengan audiens target sangat penting untuk manajemen merek. Elemen berwujud dari manajemen merek mencakup produk atau layanan itu sendiri, tampilan, harga, dan kemasannya, dll. Elemen tidak berwujud adalah pengalaman yang dibagikan konsumen dengan merek tersebut, dan juga hubungan yang mereka miliki dengan produk atau layanan merek tersebut. Riset pasar ini dapat membantu manajer merek merancang strategi merek dan periklanan yang paling efektif dan positif.

Sejarah Psikologi Konsumen
Sebagian besar hubungan antara psikologi dan konsumerisme dikaitkan dengan Walter Dill Scott dan studinya pada awal tahun 1900-an. Sebagai direktur Laboratorium Psikologi di Northwestern, Scott didekati oleh seorang eksekutif periklanan yang ingin meningkatkan upaya pemasarannya. Scott pertama kali menulis tentang subjek gabungan ini pada tahun 1903 dengan bukunya The Psychology of Advertising in Theory and Practice, dan terus fokus pada penerapan pengetahuan ilmiah dalam masalah bisnis. Scott mendedikasikan bagian akhir kariernya untuk meneliti metode kontrol sosial dan motivasi manusia.
Perilaku dan psikologi konsumen terus bermunculan pada tahun 1940-an dan 50-an sebagai sub-disiplin ilmu yang berbeda dalam bidang pemasaran. Pada akhir tahun 1950-an, dua laporan penting mengkritik pemasaran karena kurangnya keketatan metodologis, terutama kegagalan dalam mengadopsi metode penelitian ilmu perilaku yang berorientasi matematis.
Sejak tahun 1950-an, pemasaran arus utama mulai mengalihkan ketergantungannya dari ilmu ekonomi ke disiplin ilmu lainnya. Hal ini terutama mencakup ilmu perilaku, termasuk sosiologi, antropologi, dan psikologi klinis. Kombinasi ini membawa penekanan baru pada pelanggan sebagai unit analisis. Sebagai hasilnya, pengetahuan substantif baru ditambahkan ke dalam disiplin ilmu pemasaran. Ini mencakup gagasan seperti kepemimpinan opini, kelompok referensi, dan loyalitas merek.
Segmentasi pasar, terutama segmentasi demografis berdasarkan indeks status sosial ekonomi dan siklus hidup rumah tangga, juga menjadi tren. Dengan tambahan perilaku dan psikologi konsumen, disiplin ilmu pemasaran menunjukkan kecanggihan ilmiah yang meningkat terkait prosedur pengembangan dan pengujian teori-teori psikologi konsumen. Baru-baru ini, para akademisi telah menambahkan serangkaian alat baru seperti etnografi, teknik stimulasi foto (photo-elicitation), dan wawancara fenomenologis.
Saat ini, perilaku konsumen dianggap sebagai disiplin ilmu yang penting dalam pemasaran dan dimasukkan sebagai unit studi di hampir semua program pemasaran tingkat dasar.
Apa saja pengaruh psikologis pada pengambilan keputusan konsumen?
Determinan psikologis dari perilaku konsumen atau motivasi mendasar konsumen mendorong tindakan konsumen. Proses ini dapat mencakup pencarian informasi dan keputusan pembelian. Sikap konsumen terhadap suatu merek (atau preferensi merek) digambarkan sebagai hubungan antara merek dan motivasi pembelian. Motivasi psikologi perilaku konsumen dapat bersifat negatif: yaitu untuk menghindari rasa sakit atau ketidaknyamanan. Motivasi juga bisa positif: yaitu untuk mencapai beberapa jenis penghargaan seperti kepuasan sensorik.
Salah satu pendekatan untuk memahami kedua jenis motivasi ini dikembangkan oleh Abraham Maslow. Hierarki kebutuhan Maslow menggambarkan lima tingkatan kebutuhan berdasarkan tingkat kepentingannya. Pendekatan Maslow adalah model umum untuk memahami motivasi manusia dalam berbagai konteks. Penerapan model Maslow pada bidang ini menunjukkan hubungan erat antara psikologi sosial dan teori-teori budaya konsumen. Pendekatan lain mengusulkan delapan motivasi pembelian, termasuk lima motif negatif dan tiga motif positif.
Dalam literatur pemasaran, motivasi konsumen untuk mencari informasi dan keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan pembelian terkadang dikenal sebagai 'keterlibatan' (involvement). Keputusan pembelian diklasifikasikan sebagai 'keterlibatan rendah' ketika konsumen menanggung kerugian psiko-sosial yang kecil jika mereka membuat keputusan yang buruk. Keputusan pembelian diklasifikasikan sebagai keterlibatan tinggi ketika risiko psiko-sosial dianggap relatif tinggi. Tingkat keterlibatan konsumen bergantung pada beberapa faktor. Ini dapat mencakup risiko konsekuensi negatif yang dirasakan jika terjadi keputusan yang buruk, kategori produk, visibilitas sosial produk, dan pengalaman konsumen sebelumnya dengan kategori tersebut.
Beberapa pakar berpendapat bahwa gaya pengambilan keputusan mendasar tertentu dapat diidentifikasi. Sproles dan Kendall (1986) mengembangkan teori psikologi konsumen yang terdiri dari delapan faktor dalam proses pengambilan keputusan. Faktor-faktor ini meliputi sensitivitas harga, kesadaran kualitas, kesadaran merek, pencarian kebaruan, kesadaran mode, dan kebiasaan.
Berdasarkan faktor-faktor ini, para penulis mengembangkan tipologi dari delapan gaya pengambilan keputusan yang berbeda. Ini termasuk gaya 'Sadar kualitas atau Perfeksionis', gaya 'Sadar merek', gaya 'Sadar rekreasi atau Hedonistik', dan gaya 'Sadar harga'. Juga termasuk gaya 'Sadar kebaruan atau mode', gaya 'Impulsif', gaya 'Bingung (oleh terlalu banyak pilihan)', dan gaya pengambilan keputusan 'Terbiasa atau loyal pada merek'.
Apa itu Psikologi Konsumen Terapan?
Psikologi konsumen terapan adalah penerapan pengetahuan teoritis dari riset psikologi konsumen ke kehidupan sehari-hari yang nyata, atau dalam kasus merek, manajemen merek dan aktivasi pemasaran. Dalam pemasaran, manajemen merek adalah analisis dan perencanaan yang berkaitan dengan bagaimana suatu merek dipersepsikan di pasar. Mengembangkan hubungan yang baik dengan audiens target sangat penting untuk manajemen merek.
Elemen berwujud dari manajemen merek mencakup produk atau layanan itu sendiri; tampilan, harga, dan kemasannya, dll. Elemen tidak berwujud adalah pengalaman yang dibagikan konsumen dengan merek tersebut, dan juga hubungan yang mereka miliki dengan produk atau layanan merek tersebut. Seorang manajer merek mengawasi semua aspek asosiasi merek konsumen, serta hubungan dengan anggota rantai pasokan.
Bagaimana Psikologi Konsumen Digunakan oleh Pemasar?
Riset pasar terhadap faktor psikologis yang memengaruhi perilaku konsumen dapat menginformasikan bagaimana para pemasar dan manajer merek menginvestasikan waktu dan uang mereka. Manajer merek membuat strategi untuk mengubah prospek potensial menjadi prospek, prospek menjadi pembeli, pembeli menjadi pelanggan, dan pelanggan menjadi advokat merek. Manajemen merek bertujuan untuk menciptakan hubungan emosional antara perusahaan, produk dan layanannya, serta pelanggan dan konstituen mereka. Manajer merek dan manajer pemasaran mungkin mencoba mengendalikan citra merek, dan memahami pentingnya psikologi konsumen dapat membantu keputusan tersebut.
Apakah EMOTIV Menawarkan Produk untuk Riset Psikologi Konsumen?
Consumer neuroscience (juga dikenal sebagai neuromarketing) mengacu pada penggunaan komersial ilmu saraf yang diterapkan pada penyelidikan perilaku konsumen dan riset pasar. Consumer neuroscience menggunakan sensor biometrik canggih seperti elektroensefalografi (EEG) untuk mempelajari cara konsumen merespons rangsangan tertentu. Rangsangan ini dapat mencakup tampilan produk, merek, informasi kemasan, atau sinyal pemasaran lainnya. Pengujian semacam itu mengungkapkan rangsangan mana yang memicu pusat kesenangan di otak.
Temuan riset consumer neuroscience seperti pembingkaian harga atau nilai, kelelahan memilih, dan kelumpuhan keputusan telah memberikan perkembangan penting dalam pemahaman psikologi konsumen. Alat yang ampuh dalam riset pasar insight konsumen ini memberikan akses yang belum pernah ada sebelumnya ke pikiran bawah sadar.
Emotiv menawarkan rangkaian lengkap solusi perangkat keras dan perangkat lunak untuk riset psikologi konsumen. Headset EPOC X EEG dari Emotiv mencakup 14 sensor dalam konfigurasi tetap untuk penyetelan yang cepat dan sederhana. Pengguna dapat melakukan riset secara langsung, dan dengan biaya yang jauh lebih murah daripada perangkat tingkat riset tradisional. Padukan dengan perangkat lunak EmotivPRO untuk melihat tampilan langsung aliran data headset Emotiv, termasuk EEG mentah, metrik kinerja, data gerakan, akuisisi dan kehilangan paket data, serta kualitas kontak.
Definisi Psikologi Konsumen
Psikologi Konsumen adalah studi tentang perilaku manusia, mengenai pola pembelian, kebiasaan, dan preferensi mereka, dalam hubungannya dengan produk konsumen, termasuk reaksi dan preferensi mereka terhadap iklan, pengemasan, dan pemasaran produk tersebut.

FAQ Psikologi Konsumen
Apa itu Psikologi Konsumen?
Psikologi konsumen adalah bidang studi yang memanfaatkan banyak disiplin ilmu, termasuk psikologi sosial, pemasaran, ekonomi perilaku, dan bidang lainnya untuk membantu memahami konsumen. Konsep-konsep psikologi konsumen bertujuan untuk mengevaluasi dan memahami konsumen serta proses pengambilan keputusan. Faktor psikologis yang memengaruhi perilaku konsumen seperti demografi, kepribadian, gaya hidup, dan variabel perilaku seperti tingkat penggunaan, kesempatan penggunaan, loyalitas, advokasi merek, dan kesediaan untuk memberikan rujukan semuanya dipelajari dalam riset pasar.
Apa Pentingnya Psikologi Konsumen?
Memahami faktor psikologis yang memengaruhi perilaku konsumen adalah tantangan utama bagi pemasar dan pemilik bisnis. Riset tentang perilaku konsumen berkaitan dengan pemahaman tentang bagaimana keputusan pembelian dibuat, siapa yang membeli produk tertentu, dan bagaimana produk atau layanan dikonsumsi atau dialami. Penelitian telah menunjukkan bahwa peran psikologi dalam budaya konsumen mungkin sulit diprediksi, bahkan bagi para ahli di bidang tersebut. Namun, metode penelitian baru seperti etnografi dan pemasaran saraf (consumer neuroscience) memberikan titik terang baru tentang bagaimana konsumen membuat keputusan, terutama dalam menilai kesenjangan niat-tindakan, yaitu perbedaan antara apa yang dikatakan konsumen dan apa yang sebenarnya mereka lakukan.
Pemasaran Sosial, Pemasaran yang Disesuaikan (Customized Marketing), belanja barang bermerek, dan persepsi konsumen terhadap harga komoditas (yang secara langsung dinyatakan sebagai sensitivitas konsumen terhadap harga), semuanya merupakan faktor utama untuk memahami sikap konsumen dan membantu menjelaskan reaksi permintaan pasar terhadap perubahan harga.
Selain itu, mengembangkan hubungan yang baik dengan audiens target sangat penting untuk manajemen merek. Elemen berwujud dari manajemen merek mencakup produk atau layanan itu sendiri, tampilan, harga, dan kemasannya, dll. Elemen tidak berwujud adalah pengalaman yang dibagikan konsumen dengan merek tersebut, dan juga hubungan yang mereka miliki dengan produk atau layanan merek tersebut. Riset pasar ini dapat membantu manajer merek merancang strategi merek dan periklanan yang paling efektif dan positif.

Sejarah Psikologi Konsumen
Sebagian besar hubungan antara psikologi dan konsumerisme dikaitkan dengan Walter Dill Scott dan studinya pada awal tahun 1900-an. Sebagai direktur Laboratorium Psikologi di Northwestern, Scott didekati oleh seorang eksekutif periklanan yang ingin meningkatkan upaya pemasarannya. Scott pertama kali menulis tentang subjek gabungan ini pada tahun 1903 dengan bukunya The Psychology of Advertising in Theory and Practice, dan terus fokus pada penerapan pengetahuan ilmiah dalam masalah bisnis. Scott mendedikasikan bagian akhir kariernya untuk meneliti metode kontrol sosial dan motivasi manusia.
Perilaku dan psikologi konsumen terus bermunculan pada tahun 1940-an dan 50-an sebagai sub-disiplin ilmu yang berbeda dalam bidang pemasaran. Pada akhir tahun 1950-an, dua laporan penting mengkritik pemasaran karena kurangnya keketatan metodologis, terutama kegagalan dalam mengadopsi metode penelitian ilmu perilaku yang berorientasi matematis.
Sejak tahun 1950-an, pemasaran arus utama mulai mengalihkan ketergantungannya dari ilmu ekonomi ke disiplin ilmu lainnya. Hal ini terutama mencakup ilmu perilaku, termasuk sosiologi, antropologi, dan psikologi klinis. Kombinasi ini membawa penekanan baru pada pelanggan sebagai unit analisis. Sebagai hasilnya, pengetahuan substantif baru ditambahkan ke dalam disiplin ilmu pemasaran. Ini mencakup gagasan seperti kepemimpinan opini, kelompok referensi, dan loyalitas merek.
Segmentasi pasar, terutama segmentasi demografis berdasarkan indeks status sosial ekonomi dan siklus hidup rumah tangga, juga menjadi tren. Dengan tambahan perilaku dan psikologi konsumen, disiplin ilmu pemasaran menunjukkan kecanggihan ilmiah yang meningkat terkait prosedur pengembangan dan pengujian teori-teori psikologi konsumen. Baru-baru ini, para akademisi telah menambahkan serangkaian alat baru seperti etnografi, teknik stimulasi foto (photo-elicitation), dan wawancara fenomenologis.
Saat ini, perilaku konsumen dianggap sebagai disiplin ilmu yang penting dalam pemasaran dan dimasukkan sebagai unit studi di hampir semua program pemasaran tingkat dasar.
Apa saja pengaruh psikologis pada pengambilan keputusan konsumen?
Determinan psikologis dari perilaku konsumen atau motivasi mendasar konsumen mendorong tindakan konsumen. Proses ini dapat mencakup pencarian informasi dan keputusan pembelian. Sikap konsumen terhadap suatu merek (atau preferensi merek) digambarkan sebagai hubungan antara merek dan motivasi pembelian. Motivasi psikologi perilaku konsumen dapat bersifat negatif: yaitu untuk menghindari rasa sakit atau ketidaknyamanan. Motivasi juga bisa positif: yaitu untuk mencapai beberapa jenis penghargaan seperti kepuasan sensorik.
Salah satu pendekatan untuk memahami kedua jenis motivasi ini dikembangkan oleh Abraham Maslow. Hierarki kebutuhan Maslow menggambarkan lima tingkatan kebutuhan berdasarkan tingkat kepentingannya. Pendekatan Maslow adalah model umum untuk memahami motivasi manusia dalam berbagai konteks. Penerapan model Maslow pada bidang ini menunjukkan hubungan erat antara psikologi sosial dan teori-teori budaya konsumen. Pendekatan lain mengusulkan delapan motivasi pembelian, termasuk lima motif negatif dan tiga motif positif.
Dalam literatur pemasaran, motivasi konsumen untuk mencari informasi dan keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan pembelian terkadang dikenal sebagai 'keterlibatan' (involvement). Keputusan pembelian diklasifikasikan sebagai 'keterlibatan rendah' ketika konsumen menanggung kerugian psiko-sosial yang kecil jika mereka membuat keputusan yang buruk. Keputusan pembelian diklasifikasikan sebagai keterlibatan tinggi ketika risiko psiko-sosial dianggap relatif tinggi. Tingkat keterlibatan konsumen bergantung pada beberapa faktor. Ini dapat mencakup risiko konsekuensi negatif yang dirasakan jika terjadi keputusan yang buruk, kategori produk, visibilitas sosial produk, dan pengalaman konsumen sebelumnya dengan kategori tersebut.
Beberapa pakar berpendapat bahwa gaya pengambilan keputusan mendasar tertentu dapat diidentifikasi. Sproles dan Kendall (1986) mengembangkan teori psikologi konsumen yang terdiri dari delapan faktor dalam proses pengambilan keputusan. Faktor-faktor ini meliputi sensitivitas harga, kesadaran kualitas, kesadaran merek, pencarian kebaruan, kesadaran mode, dan kebiasaan.
Berdasarkan faktor-faktor ini, para penulis mengembangkan tipologi dari delapan gaya pengambilan keputusan yang berbeda. Ini termasuk gaya 'Sadar kualitas atau Perfeksionis', gaya 'Sadar merek', gaya 'Sadar rekreasi atau Hedonistik', dan gaya 'Sadar harga'. Juga termasuk gaya 'Sadar kebaruan atau mode', gaya 'Impulsif', gaya 'Bingung (oleh terlalu banyak pilihan)', dan gaya pengambilan keputusan 'Terbiasa atau loyal pada merek'.
Apa itu Psikologi Konsumen Terapan?
Psikologi konsumen terapan adalah penerapan pengetahuan teoritis dari riset psikologi konsumen ke kehidupan sehari-hari yang nyata, atau dalam kasus merek, manajemen merek dan aktivasi pemasaran. Dalam pemasaran, manajemen merek adalah analisis dan perencanaan yang berkaitan dengan bagaimana suatu merek dipersepsikan di pasar. Mengembangkan hubungan yang baik dengan audiens target sangat penting untuk manajemen merek.
Elemen berwujud dari manajemen merek mencakup produk atau layanan itu sendiri; tampilan, harga, dan kemasannya, dll. Elemen tidak berwujud adalah pengalaman yang dibagikan konsumen dengan merek tersebut, dan juga hubungan yang mereka miliki dengan produk atau layanan merek tersebut. Seorang manajer merek mengawasi semua aspek asosiasi merek konsumen, serta hubungan dengan anggota rantai pasokan.
Bagaimana Psikologi Konsumen Digunakan oleh Pemasar?
Riset pasar terhadap faktor psikologis yang memengaruhi perilaku konsumen dapat menginformasikan bagaimana para pemasar dan manajer merek menginvestasikan waktu dan uang mereka. Manajer merek membuat strategi untuk mengubah prospek potensial menjadi prospek, prospek menjadi pembeli, pembeli menjadi pelanggan, dan pelanggan menjadi advokat merek. Manajemen merek bertujuan untuk menciptakan hubungan emosional antara perusahaan, produk dan layanannya, serta pelanggan dan konstituen mereka. Manajer merek dan manajer pemasaran mungkin mencoba mengendalikan citra merek, dan memahami pentingnya psikologi konsumen dapat membantu keputusan tersebut.
Apakah EMOTIV Menawarkan Produk untuk Riset Psikologi Konsumen?
Consumer neuroscience (juga dikenal sebagai neuromarketing) mengacu pada penggunaan komersial ilmu saraf yang diterapkan pada penyelidikan perilaku konsumen dan riset pasar. Consumer neuroscience menggunakan sensor biometrik canggih seperti elektroensefalografi (EEG) untuk mempelajari cara konsumen merespons rangsangan tertentu. Rangsangan ini dapat mencakup tampilan produk, merek, informasi kemasan, atau sinyal pemasaran lainnya. Pengujian semacam itu mengungkapkan rangsangan mana yang memicu pusat kesenangan di otak.
Temuan riset consumer neuroscience seperti pembingkaian harga atau nilai, kelelahan memilih, dan kelumpuhan keputusan telah memberikan perkembangan penting dalam pemahaman psikologi konsumen. Alat yang ampuh dalam riset pasar insight konsumen ini memberikan akses yang belum pernah ada sebelumnya ke pikiran bawah sadar.
Emotiv menawarkan rangkaian lengkap solusi perangkat keras dan perangkat lunak untuk riset psikologi konsumen. Headset EPOC X EEG dari Emotiv mencakup 14 sensor dalam konfigurasi tetap untuk penyetelan yang cepat dan sederhana. Pengguna dapat melakukan riset secara langsung, dan dengan biaya yang jauh lebih murah daripada perangkat tingkat riset tradisional. Padukan dengan perangkat lunak EmotivPRO untuk melihat tampilan langsung aliran data headset Emotiv, termasuk EEG mentah, metrik kinerja, data gerakan, akuisisi dan kehilangan paket data, serta kualitas kontak.
