Bisa menjadi mengkhawatirkan ketika masalah memori muncul, terutama jika Anda sudah menghadapi masalah kesehatan jangka panjang. Terkadang, kondisi ini dapat langsung memengaruhi cara kerja otak Anda, menyebabkan penyakit kehilangan memori atau hanya kebingungan umum. Tidak selalu jelas apa yang menyebabkan apa, tetapi memahami kaitannya dapat membantu Anda dan dokter Anda untuk memahami dan mengelola kesehatan Anda dengan lebih baik.
Bagaimana Penyakit Kronis Dapat Menyebabkan Kehilangan Memori
Tampaknya sangat jelas bahwa cedera otak dapat menyebabkan masalah memori. Namun, tahukah Anda bahwa kondisi yang memengaruhi bagian tubuh lain juga dapat memengaruhi cara berpikir dan memori Anda?
Hal ini terjadi lebih sering daripada yang Anda bayangkan. Ketika penyakit kronis menyerang, penyakit tersebut dapat menciptakan serangkaian efek yang mencapai otak, yang menyebabkan apa yang terkadang disebut "gangguan kognitif sekunder." Ini bukan tentang otak itu sendiri yang menjadi masalah utama, melainkan konsekuensi dari masalah kesehatan lain.
Apa Arti dari “Gangguan Kognitif Sekunder”
Gangguan kognitif sekunder merujuk pada perubahan dalam berpikir, memori, dan fungsi mental lainnya yang terjadi karena kondisi kesehatan fisik yang tidak terkait dengan penyakit neurodegeneratif primer seperti Alzheimer. Perubahan ini dapat berkisar dari kelupaan ringan hingga kesulitan yang lebih signifikan dalam pemecahan masalah, perhatian, dan bahasa.
Tiga Jalur Utama: Peradangan, Aliran Darah Rendah, dan Penumpukan Racun
Bagaimana sebenarnya penyakit yang menyerang seluruh tubuh mengacaukan pikiran kita? Ada beberapa cara utama hal ini terjadi:
Peradangan: Banyak penyakit kronis melibatkan peradangan berkelanjutan di seluruh tubuh. Contohnya seperti artritis reumatoid atau lupus. Peradangan yang meluas ini juga dapat memengaruhi otak. Zat kimia inflamasi, yang disebut sitokin, dapat menembus sawar darah-otak atau mengirim sinyal ke sel-sel otak, sehingga mengganggu fungsi normal.
Hal ini dapat mengganggu komunikasi antar neuron, memengaruhi suasana hati, serta mengganggu pembentukan dan pemanggilan kembali memori.
Aliran Darah Rendah: Otak membutuhkan pasokan oksigen dan nutrisi yang konstan yang dialirkan oleh darah. Kondisi kronis yang memengaruhi jantung dan pembuluh darah, seperti penyakit jantung atau diabetes, dapat mengurangi aliran darah ke otak.
Hal ini dapat terjadi melalui penyempitan arteri, pembekuan darah, atau bahkan stroke kecil yang tidak disadari (terkadang disebut stroke senyap). Ketika sel-sel otak tidak mendapatkan cukup oksigen, mereka tidak dapat berfungsi dengan baik, sehingga menyebabkan defisit kognitif. Inilah mengapa mengelola kondisi yang memengaruhi sirkulasi sangat penting untuk kesehatan otak.
Penumpukan Racun: Terkadang, penyakit kronis mencegah tubuh untuk membersihkan produk limbah secara efektif. Misalnya, ketika ginjal atau hati tidak berfungsi dengan baik (seperti pada penyakit ginjal kronis atau penyakit hati), racun dapat menumpuk di aliran darah.
Racun-racun ini kemudian dapat mencapai otak dan mengganggu fungsi sel saraf, menyebabkan kebingungan, masalah memori, dan perubahan tingkat kewaspadaan. Ini seperti sistem penyaringan alami tubuh yang kewalahan, sehingga memungkinkan zat-zat berbahaya bersirkulasi dan memengaruhi organ-organ sensitif seperti otak.
Kondisi Neurologis Di Mana Gejala Kognitif Merupakan Bagian dari Penyakit
Penyakit Parkinson: Mengapa Perhatian dan Perencanaan Sering Kali Berubah Terlebih Dahulu
Penyakit Parkinson terutama dikenal karena gejala yang berhubungan dengan gerakan, seperti gemetar dan kekakuan. Namun, penyakit ini juga merupakan kondisi otak yang sering memengaruhi fungsi kognitif.
Perubahan ini biasanya bukan hal pertama yang disadari orang, tetapi bisa menjadi cukup signifikan seiring berkembangnya penyakit. Bagian otak yang dipengaruhi oleh Parkinson terlibat dalam hal yang lebih dari sekadar kontrol motorik; bagian tersebut juga berperan dalam berpikir, perhatian, dan perencanaan.
Inilah mengapa masalah dengan fungsi eksekutif—proses mental yang membantu kita merencanakan, memfokuskan perhatian, mengingat instruksi, dan menangani banyak tugas sekaligus—sering kali muncul di awal, bahkan terkadang sebelum gejala motorik yang lebih jelas terlihat menonjol.
Orang mungkin mulai mengalami kesulitan dengan hal-hal seperti:
Mengatur tugas atau pikiran
Beralih di antara aktivitas
Mempertahankan fokus pada percakapan atau tugas
Mengingat urutan atau langkah-langkah
Seiring perkembangan Parkinson, perubahan kognitif ini dapat berevolusi. Beberapa orang mungkin mengalami pemikiran yang melambat, kesulitan dengan keterampilan visual-spasial, dan masalah dengan pemanggilan kembali memori. Dalam beberapa kasus, suatu bentuk demensia, yang dikenal sebagai demensia penyakit Parkinson, dapat berkembang.
Sklerosis Ganda: Bagaimana Demielinisasi Memperlambat Pemrosesan dan Pemanggilan Kembali Memori
Sklerosis ganda (MS) adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang selubung pelindung, yang disebut mielin, yang menutupi serat saraf di otak dan sumsum tulang belakang. Kerusakan ini, yang dikenal sebagai demielinisasi, mengganggu jalur komunikasi antara otak dan bagian tubuh lainnya. Ketika sinyal-sinyal ini diperlambat atau diblokir, hal itu dapat menyebabkan berbagai macam gejala, termasuk perubahan kognitif yang signifikan.
Masalah kognitif pada MS sering kali bermanifestasi sebagai:
Kecepatan pemrosesan informasi yang melambat: Ini adalah salah satu gejala kognitif yang paling umum. Ini berarti otak membutuhkan waktu lebih lama untuk menerima, memproses, dan merespons informasi.
Masalah memori, terutama dengan pemanggilan kembali: Meskipun penderita MS mungkin dapat mempelajari informasi baru, mereka sering kali kesulitan untuk mengingatnya kembali di kemudian hari.
Kesulitan dengan perhatian dan konsentrasi: Mempertahankan fokus dapat menjadi hal yang menantang.
Masalah dengan fungsi eksekutif, seperti perencanaan dan pemecahan masalah.
Perubahan kognitif ini dapat berdampak pada kehidupan sehari-hari, memengaruhi pekerjaan, interaksi sosial, dan kemampuan untuk mengelola tugas sehari-hari. Keparahan dan jenis gejala kognitif dapat sangat bervariasi dari orang ke orang, tergantung pada lokasi dan tingkat demielinisasi.
Penyakit Huntington: Disfungsi Eksekutif Dini, Perubahan Suasana Hati, dan Penurunan Kognitif
Penyakit Huntington (HD) adalah gangguan genetik yang menyebabkan kerusakan progresif pada sel saraf di otak. Penyakit ini biasanya memengaruhi suasana hati, kemampuan kognitif, dan gerakan seseorang seiring waktu. Meskipun gejala motorik seperti gerakan tidak sadar (korea) sudah dikenal luas, perubahan kognitif dan psikiatris juga merupakan fitur inti dari penyakit ini dan sering kali muncul di awal perjalanannya.
Tanda-tanda awal penurunan kognitif pada HD sering kali melibatkan masalah dengan fungsi eksekutif. Ini dapat mencakup:
Kesulitan dalam perencanaan and organisasi
Masalah dengan berpikir fleksibel dan beradaptasi dengan situasi baru
Gangguan penilaian dan pengambilan keputusan
Di samping perubahan kognitif ini, pasien dengan HD sering kali mengalami gangguan suasana hati yang signifikan, seperti depresi, mudah tersinggung, kecemasan, atau apatis. Seiring perkembangan penyakit, gangguan kognitif menjadi lebih meluas, memengaruhi memori, perhatian, dan kemampuan untuk mempelajari informasi baru. Pada akhirnya, individu dapat mengalami demensia yang parah.
Penyakit Organ dan Metabolik yang Dapat Mengganggu Fungsi Otak
Terkadang, masalah pada cara kerja organ tubuh atau cara tubuh Anda memproses sesuatu dapat menyebabkan kehilangan memori dan kesulitan berpikir lainnya. Kondisi ini dapat mengganggu keseimbangan otak yang sensitif, memengaruhi segalanya mulai dari pemanggilan kembali memori hingga pengambilan keputusan.
Penyakit Ginjal Kronis: Bagaimana Uremia Dapat Memicu Kebingungan dan Masalah Memori
Ketika ginjal tidak menyaring produk limbah dari darah secara efektif, racun-racun ini dapat menumpuk. Kondisi ini dikenal sebagai uremia. Produk limbah ini dapat berjalan ke otak dan mengganggu aktivitas sel otak normal, sehingga menyebabkan berbagai masalah kognitif.
Orang mungkin mengalami kebingungan, kesulitan berkonsentrasi, dan masalah memori yang nyata. Dalam kasus yang lebih parah, hal itu bahkan dapat memengaruhi kewaspadaan dan fungsi mental secara keseluruhan.
Penyakit Hati: Bagaimana Ensefalopati Hepatik Mengganggu Berpikir dan Kewaspadaan
Sama seperti penyakit ginjal, penyakit hati juga dapat menyebabkan penumpukan racun dalam aliran darah. Hati biasanya menyaring zat-zat berbahaya ini, tetapi ketika rusak, zat tersebut dapat mencapai otak. Hal ini dapat menyebabkan kondisi yang disebut ensefalopati hepatik.
Gejalanya dapat sangat bervariasi, mulai dari perubahan halus dalam kepribadian dan suasana hati hingga kebingungan parah, disorientasi, dan bahkan periode tidak responsif. Hal ini benar-benar mengacaukan seberapa baik Anda dapat berpikir dan tetap sadar akan apa yang terjadi di sekitar Anda.
Penyakit Jantung: Bagaimana Penurunan Curah Jantung dan Stroke Kecil Memengaruhi Kognisi
Penyakit jantung, terutama kondisi yang mengurangi kemampuan jantung untuk memompa darah secara efektif (curah jantung rendah), dapat berarti otak tidak mendapatkan aliran darah yang cukup. Kurangnya aliran darah ini dapat menyebabkan perlambatan kognitif umum dan masalah memori.
Selain itu, penyakit jantung sering kali dikaitkan dengan kondisi seperti tekanan darah tinggi dan fibrilasi atrium, yang dapat meningkatkan risiko stroke kecil (terkadang disebut stroke senyap) di otak. Peristiwa kecil ini, meskipun tidak langsung disadari, dapat mengumpulkan kerusakan seiring waktu, yang memengaruhi memori, kecepatan pemrosesan, dan fungsi eksekutif seperti perencanaan.
Diabetes: Kerusakan Vaskular dan Disregulasi Glukosa yang Memengaruhi Otak
Diabetes memengaruhi otak dengan beberapa cara utama. Pertama, kadar gula darah yang tinggi dari waktu ke waktu dapat merusak pembuluh darah di seluruh tubuh, termasuk di otak. Kerusakan vaskular ini dapat menyebabkan penurunan aliran darah dan meningkatkan risiko stroke, serupa dengan penyakit jantung.
Kedua, kemampuan tubuh untuk mengatur gula darah dapat terganggu. Kadar gula darah yang sangat tinggi maupun sangat rendah dapat berdampak langsung pada fungsi otak, menyebabkan kebingungan sementara, penurunan memori, dan kesulitan berkonsentrasi.
Penyakit Autoimun dan Inflamasi yang Dikaitkan dengan “Brain Fog”
Lupus: Ketika Aktivitas Imun Memengaruhi Sistem Saraf Pusat
Lupus, atau Lupus Eritematosus Sistemik (SLE), adalah penyakit autoimun kronis di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang jaringan dan organnya sendiri. Meskipun sering dikaitkan dengan nyeri sendi, ruam kulit, dan kelelahan, lupus juga dapat memengaruhi otak, yang menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai lupus neuropsikiatri.
Ini dapat bermanifestasi sebagai berbagai masalah kognitif, yang sering digambarkan sebagai "brain fog." Gejala kognitif ini dapat mencakup masalah dengan memori, perhatian, konsentrasi, dan kecepatan pemrosesan.
Ketika lupus memengaruhi sistem saraf pusat, penyakit ini dapat menyebabkan peradangan di otak dan jaringan di sekitarnya. Peradangan ini dapat mengganggu fungsi otak normal, memengaruhi cara sel-sel saraf berkomunikasi.
Mekanisme pastinya masih diteliti, tetapi diperkirakan bahwa autoantibodi, yaitu protein yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyerang asing, dapat menembus ke dalam otak dan menyebabkan kerusakan atau mengganggu aktivitas sel otak. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan dengan fungsi eksekutif, seperti perencanaan dan pengambilan keputusan, serta dapat memengaruhi suasana hati dan regulasi emosi.
Diagnosis lupus neuropsikiatri melibatkan tinjauan cermat terhadap gejala, pemeriksaan neurologis, dan terkadang tes pencitraan seperti pemindaian MRI untuk mencari tanda-tanda peradangan atau kerusakan di otak. Tes darah juga dapat membantu mengidentifikasi autoantibodi tertentu yang terkait dengan lupus.
Artritis Reumatoid: Bagaimana Peradangan Kronis dan Risiko Komorbiditas Terkait dengan Kognisi
Artritis reumatoid (RA) adalah penyakit autoimun inflamasi kronis lainnya yang terutama memengaruhi sendi. Namun, karakteristik peradangan sistemik dari RA dapat meluas melampaui sendi dan memengaruhi kesehatan otak. Penderita RA mungkin mengalami kesulitan kognitif, yang dapat berdampak pada kehidupan sehari-hari mereka.
"Brain fog" pada RA ini diyakini berasal dari beberapa faktor. Pertama, peradangan yang persisten dan meluas yang terkait dengan RA dapat memengaruhi otak secara langsung. Molekul inflamasi (sitokin) yang bersirkulasi dalam aliran darah dapat menembus sawar darah-otak dan memicu neuroinflamasi, yang berpotensi mengganggu fungsi dan konektivitas neuronal. Kedua, RA sering kali datang bersamaan dengan kondisi komorbiditas yang juga memengaruhi kognisi. Ini dapat mencakup:
Penyakit kardiovaskular: RA meningkatkan risiko masalah jantung, yang dapat menyebabkan penurunan aliran darah ke otak.
Gangguan tidur: Nyeri kronis dan peradangan sering kali mengganggu tidur, dan kualitas tidur yang buruk sangat erat kaitannya dengan gangguan kognitif.
Depresi dan kecemasan: Kondisi kesehatan mental ini umum terjadi pada penderita RA dan dapat memengaruhi memori serta konsentrasi secara signifikan.
Mendiagnosis masalah kognitif pada RA melibatkan penilaian gejala melalui kuesioner dan tes kognitif, di samping mengevaluasi aktivitas penyakit secara keseluruhan dan adanya komorbiditas.
Hal yang Harus Dilakukan Ketika Masalah Memori Muncul Bersamaan dengan Penyakit Kronis
Ketika perubahan dalam memori atau cara berpikir terjadi bersamaan dengan kondisi kronis yang diketahui, hal itu bisa sangat meresahkan. Penting untuk menangani perubahan ini secara sistematis. Ini melibatkan koordinasi perawatan, memprioritaskan pengelolaan penyakit yang mendasari, dan mendukung kesehatan otak secara keseluruhan.
Koordinasikan Perawatan Antara Spesialis, Perawatan Primer, dan Pengasuh
Mengelola perubahan kognitif dalam konteks penyakit kronis sering kali memerlukan pendekatan tim. Tim ini biasanya mencakup dokter perawatan primer pasien, spesialis yang menangani kondisi kronis (seperti ahli saraf, ahli jantung, atau ahli endokrinologi), dan kemungkinan pengasuh atau anggota keluarga yang terlibat dalam kehidupan sehari-hari pasien.
Komunikasi Terbuka: Komunikasi yang teratur di antara semua pihak adalah kunci. Hal ini memastikan semua orang menyadari status kognitif pasien, setiap gejala baru, dan rencana perawatan. Membagikan pengamatan tentang memori, perhatian, atau fungsi eksekutif dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap daripada yang mungkin dimiliki oleh satu orang saja.
Rencana Perawatan Terpadu: Dokter perawatan primer sering kali bertindak sebagai narahubung pusat, membantu mengintegrasikan rekomendasi dari spesialis dan memastikan bahwa perawatan untuk penyakit kronis tidak berdampak negatif pada fungsi kognitif, dan sebaliknya.
Keterlibatan Pengasuh: Bagi pasien yang kesulitan mengelola janji temu atau mengingat instruksi, melibatkan pengasuh tepercaya sangatlah penting. Mereka dapat membantu mencatat selama janji temu, mengelola obat-obatan, dan mengamati perubahan halus yang mungkin tidak dilaporkan oleh pasien.
Prioritaskan Kontrol Penyakit dan Dukungan Kesehatan Otak Sehari-hari
Mengelola penyakit kronis secara efektif sering kali merupakan langkah pertama dalam mengatasi masalah kognitif yang terkait. Selain itu, berfokus pada faktor gaya hidup yang mendukung kesehatan otak juga dapat bermanfaat.
Manajemen Penyakit: Kepatuhan yang ketat terhadap rencana perawatan untuk kondisi kronis sangatlah penting. Sebagai contoh, menjaga kadar gula darah tetap stabil pada diabetes, mengelola tekanan darah pada penyakit jantung, atau mengendalikan peradangan pada kondisi autoimun dapat berdampak langsung pada fungsi otak dan berpotensi memperlambat penurunan kognitif.
Faktor Gaya Hidup: Beberapa kebiasaan sehari-hari dapat mendukung fungsi kognitif:
Nutrisi: Diet seimbang, yang sering kali kaya akan buah-buahan, sayuran, dan lemak sehat, memberikan nutrisi yang diperlukan oleh otak.
Aktivitas Fisik: Olahraga teratur dapat meningkatkan aliran darah ke otak dan dapat merangsang pertumbuhan sel-sel otak baru.
Tidur: Tidur yang cukup dan berkualitas sangat penting untuk konsolidasi memori dan perbaikan otak secara keseluruhan.
Stimulasi Mental: Terlibat dalam aktivitas yang menantang secara mental, seperti membaca, teka-teki, atau mempelajari keterampilan baru, dapat membantu mempertahankan cadangan kognitif.
Manajemen Stres: Stres kronis dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan kognitif. Menerapkan teknik pengurangan stres, seperti kesadaran penuh (mindfulness) atau latihan relaksasi, dapat sangat membantu.
Prospek Jangka Panjang untuk Pasien dengan Gangguan Kognitif Sekunder
Memahami penyakit kehilangan memori adalah perjalanan yang kompleks, yang menyentuh tidak hanya individu tersebut tetapi juga orang-orang tercinta dan sistem pendukung mereka. Sementara penelitian sains saraf terus mengungkap mekanisme rumit di balik kondisi ini, fokusnya tetap pada pengelolaan gejala, peningkatan kualitas hidup, dan pemberian perawatan yang penuh kasih empati.
Deteksi dini, akses ke sumber daya, dan dukungan berkelanjutan adalah kunci bagi keluarga yang menghadapi tantangan terkait demensia. Dengan membina komunikasi yang terbuka dan mencari bantuan saat dibutuhkan, kita dapat mengatasi dampak penyakit ini dengan lebih baik dan berupaya menuju masa depan dengan perawatan yang lebih efektif dan pemahaman yang lebih besar.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah penyakit jangka panjang dapat menyebabkan masalah memori?
Ya, banyak masalah kesehatan yang sedang berlangsung dapat memengaruhi memori dan pemikiran Anda. Ketika tubuh Anda menghadapi penyakit kronis, terkadang hal itu dapat memengaruhi cara kerja otak Anda. Hal ini dapat terjadi karena hal-hal seperti pembengkakan di tubuh, kurangnya aliran darah ke otak, atau penumpukan zat-zat berbahaya.
Apa yang dimaksud dengan 'gangguan kognitif sekunder'?
Istilah ini berarti bahwa masalah memori atau pemikiran terjadi karena masalah kesehatan lain. Ini bukan penyakit terpisah itu sendiri, melainkan gejala atau efek dari sesuatu yang lain yang terjadi di dalam tubuh.
Bagaimana peradangan akibat penyakit memengaruhi memori?
Ketika tubuh Anda melawan suatu penyakit, hal itu dapat menyebabkan pembengkakan (peradangan) di seluruh tubuh Anda, termasuk di otak Anda. Peradangan ini dapat mengganggu cara sel-sel otak berkomunikasi, sehingga menyebabkan kesulitan dengan memori dan berpikir.
Apakah masalah jantung dapat menyebabkan hilangnya memori?
Tentu saja. Jika jantung Anda tidak memompa darah sebagaimana mestinya, otak Anda mungkin tidak mendapatkan cukup oksigen dan nutrisi. Selain itu, stroke kecil, yang dapat terjadi akibat masalah jantung, dapat merusak area otak yang penting untuk memori.
Bagaimana diabetes memengaruhi fungsi otak?
Diabetes dapat merusak pembuluh darah di seluruh tubuh Anda, termasuk di otak. Hal ini dapat mengurangi aliran darah dan membuat otak Anda lebih sulit untuk bekerja dengan baik. Selain itu, kadar gula darah yang tinggi atau rendah dapat secara langsung memengaruhi pemikiran dan memori.
Apa itu 'brain fog' dan bagaimana hubungannya dengan penyakit autoimun?
'Brain fog' adalah istilah yang digunakan orang ketika mereka merasa pikiran mereka tidak jernih, sulit fokus, atau mengalami masalah memori. Penyakit autoimun tertentu, di mana sistem pertahanan tubuh secara keliru menyerang dirinya sendiri, dapat menyebabkan hal ini dengan memengaruhi otak.
Apakah penyakit ginjal atau hati dapat menyebabkan kebingungan?
Ya. Ketika ginjal atau hati Anda tidak berfungsi dengan baik, produk limbah dapat menumpuk di darah Anda. Jika produk limbah ini menumpuk terlalu banyak, mereka dapat menjadi racun bagi otak, sehingga menyebabkan kebingungan, masalah memori, dan perubahan dalam tingkat kewaspadaan.
Apakah masalah memori merupakan gejala dari penyakit Parkinson?
Meskipun Parkinson terutama dikenal karena masalah gerakan, penyakit ini juga dapat memengaruhi pemikiran dan memori. Sering kali, masalah dalam memperhatikan atau merencanakan sesuatu mungkin disadari terlebih dahulu, bahkan sebelum kehilangan memori yang signifikan.
Bagaimana Sklerosis Ganda (MS) memengaruhi memori?
Pada MS, selubung pelindung di sekitar serat saraf di otak dan sumsum tulang belakang menjadi rusak. Hal ini memperlambat seberapa cepat sinyal berjalan, yang dapat membuat informasi lebih sulit diproses dan memori lebih sulit dipanggil kembali dengan cepat.
Apa yang harus saya lakukan jika saya menyadari adanya masalah memori bersamaan dengan penyakit kronis?
Sangat penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter Anda. Anda juga harus memastikan semua dokter Anda, termasuk para spesialis, saling berkomunikasi satu sama lain. Menjaga penyakit kronis Anda terkelola dengan baik adalah kunci, dan ada juga kebiasaan sehari-hari yang dapat mendukung kesehatan otak Anda.
Apakah kehilangan memori akibat penyakit dapat dipulihkan?
Terkadang, ya. Jika masalah memori disebabkan oleh penyebab yang dapat diobati seperti kekurangan vitamin, infeksi, atau efek samping obat, gejala-gejala tersebut mungkin membaik atau hilang setelah masalah yang mendasarinya diatasi.
Apa saja cara utama penyakit kronis dapat mengganggu memori?
Secara umum ada tiga cara utama: 1. Pembengkakan (peradangan) di tubuh dan otak. 2. Kurangnya aliran darah ke otak. 3. Penumpukan zat berbahaya di dalam tubuh yang dapat memengaruhi sel otak.
Emotiv adalah pemimpin neuroteknologi yang membantu memajukan penelitian neurosains melalui alat EEG dan data otak yang mudah diakses.
Christian Burgos




