Cari topik lainnya…

Kanker otak glioblastoma, jenis tumor otak yang sangat sulit, menghadirkan tantangan serius bagi dokter dan pasien. Penyakit ini dikenal agresif dan sulit diobati, sering kambuh bahkan setelah pengobatan.

Artikel ini membahas mengapa glioblastoma begitu rumit, apa yang membuatnya bekerja di tingkat sel, dan ide-ide baru yang sedang dieksplorasi para peneliti untuk melawannya.

Tantangan Biologis yang Unik dari Glioblastoma

Mengapa Glioblastoma Sangat Resisten terhadap Terapi Standar Melampaui Klasifikasi Stadium IV?

Glioblastoma, sering disebut sebagai GBM, adalah bentuk kanker otak yang sangat agresif. Penyakit ini berawal dari sel berbentuk bintang yang disebut astrosit, yang merupakan bagian dari jaringan pendukung otak.

Meskipun diklasifikasikan sebagai tumor Stadium IV, resistensinya terhadap pengobatan melampaui tingkat stadiumnya saja. Salah satu hambatan utama adalah sifat tumor yang infiltratif (menyusup).

Seiring pertumbuhan glioblastoma, ia mengirimkan proyeksi kecil mirip jari yang menyebar ke jaringan otak sehat di sekitarnya. Hal ini membuatnya sangat sulit, bahkan mustahil, bagi ahli bedah untuk mengangkat setiap sel kanker. Meskipun operasi tampaknya telah mengangkat seluruh tumor, sisa-sisa mikroskopis dapat tertinggal, yang menjadi jalan bagi kekambuhan.

Tantangan signifikan lainnya adalah keragaman yang luar biasa dalam satu tumor glioblastoma tunggal. Tumor ini tidak hanya terdiri dari satu jenis sel saja; tumor ini mengandung banyak jenis sel yang berbeda, masing-masing dengan karakteristiknya sendiri.

Heterogenitas seluler ini berarti bahwa suatu pengobatan, seperti obat kemoterapi, mungkin efektif terhadap beberapa sel tetapi sama sekali tidak efektif terhadap sel lainnya. Hal ini membuat upaya menemukan pengobatan tunggal yang dapat mengatasi seluruh populasi tumor menjadi tugas yang rumit.

Lebih jauh lagi, glioblastoma sering kali tidak memiliki mutasi genetik spesifik, seperti mutasi pada gen IDH, yang ditemukan pada tumor otak yang tumbuh lebih lambat dan cenderung merespons terapi dengan lebih baik. Absennya mutasi ini berkontribusi pada perilaku agresif glioblastoma dan respons yang buruk terhadap pengobatan konvensional.

Bagaimana Sel Punca Glioblastoma (GSC) Berkontribusi Secara Spesifik pada Kekambuhan Tumor?

Salah satu alasan utama mengapa tumor glioblastoma sering kali muncul kembali setelah pengobatan adalah keberadaan sel punca glioblastoma, atau GSC.

Ini adalah populasi kecil sel di dalam tumor yang memiliki sifat mirip dengan sel punca normal. Mereka diyakini bertanggung jawab untuk memulai pertumbuhan tumor dan, yang terpenting, untuk kemampuan tumor untuk tumbuh kembali setelah terapi.

GSC sering kali lebih resisten terhadap kemoterapi dan radiasi daripada sebagian besar sel tumor lainnya. Ini berarti bahwa meskipun pengobatan standar mungkin membunuh sebagian besar sel kanker, GSC dapat bertahan hidup dan kemudian memulai proses pertumbuhan kembali tumor.

Kemampuan bertahan hidup dan kapasitas regeneratif ini membuat GSC menjadi fokus utama bagi para peneliti neurosains yang mencoba menemukan cara untuk mencegah glioblastoma kambuh kembali.

Bagaimana Tumor Glioblastoma Berhasil Menghindari Sistem Kekebalan Tubuh?

Tumor glioblastoma juga mahir dalam bersembunyi dari atau melumpuhkan sistem kekebalan tubuh sendiri, yang dirancang untuk melawan penyerang asing seperti sel kanker.

Salah satu cara mereka melakukan ini adalah dengan menciptakan lingkungan di sekitar tumor yang menekan respons imun. Mereka dapat melepaskan molekul tertentu yang memerintahkan sel imun untuk mundur atau bahkan mengubahnya menjadi sel yang membantu tumor tumbuh.

Selain itu, sel glioblastoma dapat mengekspresikan protein pada permukaannya yang bertindak seperti perisai, mencegah sel imun untuk mengenali dan menyerang mereka.

Bagaimana Para Peneliti Memetakan Lanskap Molekuler Glioblastoma?

Glioblastoma adalah kanker otak yang kompleks, dan memahami cara kerja bagian dalamnya adalah kunci untuk menemukan cara pengobatan yang lebih baik. Ini bukan hanya satu penyakit tunggal; ini lebih seperti kumpulan dari berbagai jenis penyakit, yang masing-masing memiliki sidik jari molekulernya sendiri.

Komposisi molekuler ini sangat memengaruhi bagaimana kanker berperilaku dan bagaimana ia merespons pengobatan.

Apa Perbedaan Antara Penyakit IDH-wildtype dan IDH-mutant?

Salah satu perbedaan paling penting dalam klasifikasi glioblastoma adalah status dari gen IDH.

Gen ini berperan dalam metabolisme sel. Ketika gen IDH bermutasi, hal itu sering kali menyebabkan tumor yang tumbuh lebih lambat dan cenderung merespons lebih baik terhadap beberapa pengobatan tertentu.

Sebaliknya, glioblastoma IDH-wildtype, yang tidak memiliki mutasi ini, umumnya lebih agresif dan lebih sulit diobati. Perbedaan genetik ini berarti bahwa glioblastoma IDH-wildtype dan IDH-mutant sering kali dianggap sebagai penyakit berbeda yang membutuhkan strategi terapi yang berbeda pula.

Bagaimana Metilasi Promotor MGMT Memengaruhi Efikasi Pengobatan Glioblastoma?

Penanda molekuler penting lainnya adalah status metilasi dari promotor gen MGMT. Protein MGMT membantu memperbaiki kerusakan DNA, termasuk kerusakan yang disebabkan oleh obat kemoterapi seperti temozolomide.

Ketika wilayah promotor dari gen MGMT mengalami metilasi, ini secara efektif membungkam gen tersebut, mengurangi produksi protein MGMT. Pembungkaman ini membuat sel-sel tumor lebih rentan terhadap kemoterapi, karena mekanisme perbaikan DNA mereka terganggu.

Oleh karena itu, pasien yang tumornya memiliki promotor MGMT yang termetilasi sering kali menunjukkan respons yang lebih baik terhadap pengobatan temozolomide dibandingkan dengan mereka yang promotor MGMT-nya tidak termetilasi. Pengujian untuk metilasi promotor MGMT adalah bagian standar dari diagnosis dan perencanaan pengobatan untuk glioblastoma.

Bagaimana Dunia Medis Dapat Menembus dan Mengatasi Saraf Penghalang Darah-Otak (Blood-Brain Barrier)?

Sistem Pengiriman Obat Inovatif Apa Saja yang Saat Ini Sedang Dikembangkan?

Saraf penghalang darah-otak (BBB) adalah perisai pelindung yang menjaga otak tetap aman dari zat berbahaya di dalam aliran darah. Meskipun hal ini baik untuk kesehatan otak secara umum, hal ini membuat pengobatan kanker otak seperti glioblastoma menjadi sangat sulit.

Sebagian besar obat kanker tidak dapat melewati penghalang ini dalam jumlah yang cukup untuk menjadi efektif. Para peneliti sedang mengeksplorasi beberapa cara baru untuk mengirimkan pengobatan ke tempat yang dituju.

Dapatkah USG Terfokus Digunakan untuk Membuka Saraf Penghalang Darah-Otak secara Sementara?

Salah satu pendekatan yang menjanjikan melibatkan penggunaan USG terfokus. Teknologi ini menggunakan gelombang suara untuk membuat celah kecil sementara pada BBB.

Bayangkan ini seperti membuka kunci pintu secara singkat. Ketika penghalang dibuka sementara di area tertentu, obat-obatan yang biasanya tidak dapat menembusnya kemudian dapat masuk ke jaringan otak di sekitar tumor.

Metode ini sedang dipelajari untuk melihat bagaimana ia dapat meningkatkan pengiriman obat kemoterapi dan terapi lainnya secara langsung ke lokasi glioblastoma, berpotensi meningkatkan dampaknya sekaligus meminimalkan efek samping di bagian tubuh lainnya.

Bagaimana Teknologi Nanopartikel Mengirimkan Terapi Secara Langsung ke Otak?

Bidang penelitian aktif lainnya adalah penggunaan nanopartikel. Ini adalah partikel yang sangat kecil, jauh lebih kecil daripada sel, yang dapat direkayasa untuk membawa obat-obatan.

Karena ukurannya yang sangat kecil, nanopartikel terkadang dapat menyelinap melalui BBB dengan lebih mudah daripada molekul obat yang lebih besar. Para ilmuwan sedang merancang nanopartikel ini untuk secara khusus menargetkan sel kanker, sehingga mereka melepaskan muatan obat tepat di tempat yang dibutuhkan.

Pendekatan bertarget ini bertujuan untuk membuat pengobatan lebih manjur melawan tumor dan mengurangi kerusakan pada jaringan otak yang sehat. Pengembangan sistem pengiriman tingkat lanjut ini merupakan langkah kunci dalam membuat pengobatan glioblastoma menjadi lebih efektif.

Gelombang Terapi Glioblastoma Berikutnya

Pendekatan Imunoterapi Mana yang Menggunakan Vaksin dan Sel CAR-T untuk Melawan Glioblastoma?

Pengobatan untuk glioblastoma selalu berkembang, dan banyak penelitian saat ini mencari cara untuk membuat sistem kekebalan tubuh pasien sendiri melawan kanker tersebut.

Ini disebut imunoterapi. Salah satu idenya adalah menggunakan penghambat pos pemeriksaan (checkpoint inhibitors). Ini adalah obat-obatan yang pada dasarnya melepas rem pada sel imun, memungkinkan mereka untuk menyerang sel kanker dengan lebih efektif.

Pendekatan lain melibatkan pembuatan vaksin yang dirancang khusus untuk melatih sistem kekebalan tubuh agar mengenali dan menghancurkan sel glioblastoma.

Para peneliti juga mengeksplorasi terapi sel CAR-T, di mana sel-T milik pasien (sejenis sel imun) diambil, dimodifikasi secara genetik di laboratorium agar lebih baik dalam menargetkan kanker, dan kemudian dimasukkan kembali ke dalam tubuh pasien. Tujuan dari semua metode ini adalah untuk menciptakan respons imun yang lebih tahan lama terhadap tumor.

Bagaimana Terapi Virus Onkolitik Memanfaatkan Virus untuk Membunuh Sel Kanker?

Terapi virus onkolitik menggunakan virus yang secara alami pandai menginfeksi dan membunuh sel kanker, atau virus yang telah dimodifikasi untuk tujuan tersebut. Virus-virus ini dimasukkan ke dalam tumor, di mana mereka bereplikasi di dalam sel kanker, menyebabkannya pecah dan mati.

Sebagai nilai tambah, proses ini juga dapat memicu respons imun terhadap sel kanker yang tersisa. Ini mirip seperti menggunakan strategi kuda Troya untuk menyerang tumor dari dalam. Para ilmuwan sedang bekerja keras untuk membuat virus ini lebih efektif dan lebih aman bagi pasien.

Target Baru Apa yang Ditemukan dengan Menjelajahi Jalur Metabolik dan Sinyal Seluler?

Sel glioblastoma memiliki cara unik untuk mendapatkan energi dan sinyal yang mereka butuhkan untuk tumbuh dan bertahan hidup. Para peneliti sedang menyelidiki jalur-jalur metabolik dan rute pensinyalan ini untuk menemukan kerentanan baru.

Sebagai contoh, beberapa sel glioblastoma sangat bergantung pada nutrisi tertentu atau memiliki sinyal pertumbuhan yang terlalu aktif. Dengan mengidentifikasi ketergantungan spesifik ini, obat-obatan baru dapat dikembangkan untuk memblokir jalur-jalur tersebut, membuat tumor kelaparan atau mengganggu sinyal pertumbuhannya.

Pendekatan bertarget ini bertujuan untuk menjadi lebih presisi daripada pengobatan tradisional, sehingga berpotensi menimbulkan lebih sedikit efek samping.

Bagaimana Para Peneliti Dapat Memanfaatkan Bioelektrisitas untuk Pengobatan Glioblastoma?

Bagaimana Tumor-Treating Fields (TTFields) Menggunakan Medan Listrik untuk Mengacaukan Sel Kanker?

Seiring para peneliti melihat melampaui pendekatan kimia dan radiologis tradisional, terapi bioelektrik telah muncul sebagai batas baru yang signifikan dalam perawatan glioblastoma.

Yang paling menonjol dari terapi ini adalah Tumor-Treating Fields (TTFields), sebuah intervensi yang disetujui FDA yang tersedia secara klinis sebagai perangkat yang dapat dikenakan. Berbeda dengan teknologi pemantauan, terapi ini secara aktif menargetkan tumor dengan mengalirkan medan listrik bolak-balik berintensitas rendah yang terus-menerus langsung ke otak melalui serangkaian bantalan perekat yang ditempatkan di kulit kepala.

Karena sel glioblastoma membelah dengan kecepatan yang agresif, frekuensi listrik spesifik ini dirancang untuk mengganggu mesin seluler yang diperlukan untuk mitosis, secara efektif mengacaukan kemampuan kanker untuk mereplikasi dan memicu kematian sel.

Terapi TTFields bukanlah pengobatan yang berdiri sendiri; melainkan diintegrasikan ke dalam standar perawatan bersama kemoterapi pemeliharaan setelah operasi awal dan radiasi.

Bagaimana Potensi EEG Tingkat Lanjut untuk Berfungsi sebagai Biomarker dalam Penelitian?

Sementara terapi bioelektrik mengirimkan medan eksternal untuk melawan tumor, para peneliti juga memanfaatkan sinyal listrik intrinsik otak untuk lebih memahami penyakit otak tersebut.

Dalam uji klinis glioblastoma, elektroensefalografi kuantitatif tingkat lanjut (qEEG) semakin banyak dieksplorasi sebagai biomarker fungsional.

Pencitraan struktural tradisional, seperti MRI, sangat penting untuk melacak dimensi fisik tumor, tetapi tidak selalu dapat menangkap dampak kognitif real-time yang bernuansa dari kanker atau neurotoksisitas dari pengobatan eksperimental.

Dengan terus memetakan aktivitas listrik otak, qEEG menyediakan pembacaan yang objektif dan terukur dari fungsi jaringan neurokognitif yang mendasari pasien. Hal ini memungkinkan peneliti klinis untuk melacak bagaimana lingkungan fungsional otak merespons terapi baru, memberikan lapisan data penting yang melengkapi pencitraan struktural.

Pada akhirnya, pemanfaatan qEEG membantu para peneliti mengevaluasi apakah pengobatan baru yang sedang berkembang berhasil mempertahankan integritas neurologis dan kualitas hidup pasien secara keseluruhan bersamaan dengan efek anti-tumornya.

Bagaimana Masa Depan dari Lanskap Penelitian Glioblastoma yang Terus Berkembang?

Glioblastoma tetap menjadi tantangan berat dalam neuro-onkologi, yang ditandai dengan sifatnya yang agresif dan pilihan pengobatan yang terbatas. Meskipun ada kemajuan dalam bedah, radiasi, dan kemoterapi, prognosis pasien hanya melihat peningkatan yang tipis selama beberapa dekade terakhir.

Kemampuan penyakit ini untuk menyusup ke jaringan otak dan heterogenitas seluler yang melekat padanya membuat pemberantasan total menjadi sulit, dan sering kali berujung pada kekambuhan. Namun, penelitian yang sedang berlangsung terus mengungkap biologi glioblastoma yang kompleks, mengidentifikasi target terapi baru yang potensial seperti protein prion dan interaksinya dengan sel punca tumor.

Penemuan-penemuan ini, meskipun masih dalam tahap awal, menawarkan harapan untuk mengembangkan strategi yang lebih efektif guna memerangi kanker yang menghancurkan ini. Investasi berkelanjutan dalam uji klinis dan pemahaman yang lebih mendalam tentang landasan molekuler glioblastoma sangat penting untuk meningkatkan hasil akhir pasien dan pada akhirnya menemukan obatnya.

Referensi

  1. Cohen, A. L., Holmen, S. L., & Colman, H. (2013). IDH1 and IDH2 mutations in gliomas. Current neurology and neuroscience reports, 13(5), 345. https://doi.org/10.1007/s11910-013-0345-4

  2. Koshrovski-Michael, S., Ajamil, D. R., Dey, P., Kleiner, R., Tevet, S., Epshtein, Y., ... & Satchi-Fainaro, R. (2024). Two-in-one nanoparticle platform induces a strong therapeutic effect of targeted therapies in P-selectin–expressing cancers. Science advances, 10(50), eadr4762. https://doi.org/10.1126/sciadv.adr4762

  3. Ferber, S., Tiram, G., Sousa-Herves, A., Eldar-Boock, A., Krivitsky, A., Scomparin, A., ... & Satchi-Fainaro, R. (2017). Co-targeting the tumor endothelium and P-selectin-expressing glioblastoma cells leads to a remarkable therapeutic outcome. Elife, 6, e25281. https://doi.org/10.7554/eLife.25281

  4. Carvalho, H. M., Fidalgo, T. A., Acúrcio, R. C., Matos, A. I., Satchi‐Fainaro, R., & Florindo, H. F. (2024). Better, Faster, Stronger: Accelerating mRNA‐Based Immunotherapies With Nanocarriers. Wiley Interdisciplinary Reviews: Nanomedicine and Nanobiotechnology, 16(6), e2017. https://doi.org/10.1002/wnan.2017

  5. Longobardi, G., Miari, A., Liubomirski, Y., Buderovsky, E., Levin, A. G., & Satchi-Fainaro, R. (2026). Abstract LB329: Overcoming the blood-brain barrier to potentiate GD2-CAR T therapy using P-selectin-targeted nanomedicine. Cancer Research, 86(8_Supplement), LB329-LB329. https://doi.org/10.1158/1538-7445.AM2026-LB329

  6. Hamad, A., Yusubalieva, G. M., Baklaushev, V. P., Chumakov, P. M., & Lipatova, A. V. (2023). Recent developments in glioblastoma therapy: oncolytic viruses and emerging future strategies. Viruses, 15(2), 547. https://doi.org/10.3390/v15020547

  7. American Association for Cancer Research. (2026, April 1). FDA approvals in oncology: January-March 2026. AACR Cancer Research Catalyst. https://www.aacr.org/blog/2026/04/01/fda-approvals-in-oncology-january-march-2026/

  8. de Ruiter, M. A., Meeteren, A. Y. S. V., van Mourik, R., Janssen, T. W., Greidanus, J. E., Oosterlaan, J., & Grootenhuis, M. A. (2012). Neurofeedback to improve neurocognitive functioning of children treated for a brain tumor: design of a randomized controlled double-blind trial. BMC cancer, 12(1), 581. https://doi.org/10.1186/1471-2407-12-581

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa sebenarnya glioblastoma itu?

Glioblastoma adalah jenis kanker otak yang berawal dari sel-sel otak berbentuk bintang yang disebut astrosit. Sel-sel ini biasanya berfungsi untuk membantu menyokong dan melindungi otak. Ketika sel tersebut menjadi kanker, mereka tumbuh dan menyebar dengan sangat cepat, menjadikan glioblastoma sebagai kondisi yang sangat serius.

Mengapa glioblastoma sangat sulit diobati?

Glioblastoma sulit diobati karena beberapa alasan. Sel-sel kanker dapat menyebar seperti akar kecil ke dalam otak, sehingga hampir mustahil untuk mengangkat semuanya lewat operasi. Selain itu, sejenis kanker ini terdiri dari banyak jenis sel yang berbeda, jadi pengobatan yang berhasil pada satu jenis sel mungkin tidak berhasil pada sel lainnya. Kanker ini juga sangat pandai bersembunyi dari sistem pertahanan tubuh sendiri.

Apa saja gejala umum dari glioblastoma?

Gejala-gejala dapat bervariasi tergantung pada lokasi tumor di otak. Beberapa tanda umum meliputi sakit kepala parah yang tidak kunjung hilang, kejang, dan perubahan kepribadian atau perilaku. Anda juga mungkin melihat adanya masalah pada kemampuan berbicara atau bergerak.

Bagaimana dokter mendiagnosis bahwa seseorang mengidap glioblastoma?

Dokter biasanya mendiagnosis glioblastoma dengan mengambil sampel kecil dari jaringan yang dicurigai dan memeriksanya di bawah mikroskop. Mereka juga melakukan tes khusus untuk memeriksa perubahan pada gen-gen sel kanker. Pemindaian otak seperti MRI juga digunakan untuk melihat tumor.

Apa pengobatan utama untuk glioblastoma?

Pengobatan utama biasanya melibatkan kombinasi operasi untuk mengangkat tumor sebanyak mungkin, terapi radiasi untuk membunuh sel kanker, dan kemoterapi yang menggunakan obat-obatan untuk melawan kanker. Terkadang, perangkat khusus yang menghasilkan medan listrik juga digunakan.

Apa itu sel punca glioblastoma?

Ini adalah sel-sel kanker khusus di dalam tumor yang berfungsi seperti 'benih' dari kanker tersebut. Mereka dapat 'tertidur' untuk sementara waktu tetapi kemudian mulai tumbuh dan menyebabkan tumor muncul kembali, bahkan setelah menjalani pengobatan. Mereka sangat ahli dalam memperbarui diri dan dapat menciptakan sel tumor baru.

Apa itu saraf penghalang darah-otak dan mengapa ia menjadi tantangan?

Saraf penghalang darah-otak adalah perisai pelindung yang mencegah sebagian besar zat di dalam aliran darah agar tidak mencapai otak. Meskipun sistem ini melindungi otak dari hal-hal berbahaya, ia juga mempersulit obat-obatan pelawan kanker untuk masuk ke dalam otak guna mengobati tumor seperti glioblastoma.

Apakah ada cara baru untuk memasukkan obat melewati saraf penghalang darah-otak?

Ya, para ilmuwan sedang mengembangkan metode-metode baru. Metode ini meliputi penggunaan partikel sangat kecil yang disebut nanopartikel untuk membawa obat, menggunakan gelombang USG terfokus untuk membuka penghalang secara sementara, dan membuat sistem pengiriman obat khusus yang dirancang khusus untuk otak.

Apa itu imunoterapi untuk glioblastoma?

Imunoterapi adalah jenis pengobatan yang membantu sistem kekebalan tubuh pasien sendiri untuk melawan kanker. Untuk glioblastoma, cara ini dapat melibatkan penggunaan obat khusus, pembuatan vaksin untuk melatih sistem kekebalan tubuh, atau menggunakan sel imun yang telah dimodifikasi (seperti sel CAR-T) untuk menyerang tumor.

Emotiv adalah pemimpin neuroteknologi yang membantu memajukan penelitian neurosains melalui alat EEG dan data otak yang mudah diakses.

Christian Burgos

Terbaru dari kami

Kerapatan Spektral Daya dalam EEG

Power spectral density, atau PSD, adalah alat yang memisahkan sinyal EEG dan memberi tahu Anda seberapa besar energi yang dikontribusikan oleh masing-masing kecepatan, atau frekuensi, terhadap rekaman keseluruhan. Setelah Anda dapat membaca plot PSD, Anda sedang membaca semacam skor ritme untuk otak, sebuah grafik yang menunjukkan tempo mana yang mendominasi dan mana yang memudar ke latar belakang.

Baca artikel

Transformasi Kosinus Diskrit

Elektroensefalogram (EEG) menghasilkan data berkelanjutan dalam jumlah besar di puluhan saluran dalam jangka waktu yang lama. Volume ini membebani memori headset portabel yang terbatas, membatasi jaringan telemedis, dan memperlambat antarmuka otak-komputer (BCI) real-time. Oleh karena itu, data EEG mentah memerlukan reduksi agar dapat diproses secara efisien.

Transformasi kosinus diskrit (DCT), yang berfungsi sebagai landasan matematika untuk kompresi JPEG, menyelesaikan tantangan ini. Sama seperti cara DCT mengompresi gambar dengan tetap menjaga pengenalan, DCT mengurangi ukuran sinyal EEG sekaligus mempertahankan bentuk keseluruhannya. Memahami mekanika dan batasannya membantu menentukan kapan DCT cocok digunakan atau kapan transformasi alternatif lebih disukai.

Baca artikel

Filter Notch dalam EEG

Elektroensefalogram membawa sinyal kognitif saraf dan kebisingan listrik 50 atau 60 Hz dari kabel di sekitarnya. Karena interferensi ini dapat mendistorsi data saraf, para peneliti sering kali menerapkan filter notch—filter band-stop sempit yang menekan frekuensi spesifik ini sekaligus membiarkan spektrum EEG lainnya tetap utuh.

Baca artikel

Empirical Mode Decomposition

Empirical mode decomposition (EMD) dikembangkan sebagai respons terhadap ketidaksesuaian antara alat pemrosesan EEG dan data yang diminta untuk diinterpretasikannya. Alih-alih memaksakan sinyal ke dalam satu set gelombang sinus atau wavelet tetap yang dipilih sebelumnya, EMD membiarkan data menentukan blok pembangunnya sendiri. Blok pembangun ini disebut fungsi mode intrinsik (intrinsic mode functions atau IMF), dan proses yang menghasilkannya tidak memerlukan asumsi bahwa sinyal tersebut stasioner atau linier.

Hal ini membuat EMD secara konseptual menarik untuk EEG, di mana peristiwa transien yang tidak teratur sering kali merupakan fitur tepat yang ingin dideteksi oleh peneliti. Daya tarik tersebut telah mendorong serangkaian penelitian terapan ke dalam deteksi kejang, klasifikasi emosi, penghilangan artefak, dan antarmuka otak-komputer.

Baca artikel