Tidur non-rapid eye movement (NREM) dalam menyempit menjadi tahap berbeda yang disebut tidur gelombang lambat (SWS), atau tahap N3. Pada elektroensefalogram (EEG), tahap ini ditentukan oleh aktivitas listrik dengan amplitudo tinggi dan frekuensi rendah.
Istilah "gelombang delta" dapat merujuk pada satu pita tegangan tertentu, tetapi dalam penelitian tidur istilah ini sering kali berfungsi secara lebih luas. Ini mencakup gelombang delta yang diukur antara 75 dan 140 mikrovolt, gelombang lambat EEG di atas 140 mikrovolt, osilasi lambat di bawah 1 Hz, dan aktivitas gelombang lambat dalam pita 0,75 hingga 4,5 Hz.
Peran Gelombang Delta untuk Tidur dan Istirahat
Gelombang delta sangat terkait erat dengan bagian pemulihan dari tidur, tetapi gelombang ini tidak bertindak sebagai pengobatan terpisah atau sakelar yang dapat dinyalakan begitu saja. Gelombang ini muncul sebagai bagian dari perubahan yang terkoordinasi di otak, suhu tubuh, hormon, aktivitas otonom, dan tekanan tidur.
Waktu terjadinya perubahan ini diatur oleh ritme sirkadian dan kebutuhan pemulihan yang menumpuk selama waktu terjaga. Malam hari dengan total waktu tidur yang cukup masih bisa terasa tidak menyegarkan jika tidur tersebut terfragmentasi atau tidak selaras dengan waktu biologis.
Bagaimana Osilasi Lambat Kortikal Menghasilkan Perjalanan Gelombang Delta
Ciri khas elektrik dari N3 dimulai pada tingkat neuron kortikal. Dari perspektif neuroscience (sains saraf), peristiwa mendasar yang terjadi adalah osilasi lambat di bawah 1 Hz.
Setiap siklus bergantian di antara dua keadaan:
Yang pertama adalah keadaan terhiperpolarisasi ke bawah (down state), sebuah fase di mana potensial membran neuron bergerak menjauhi ambang letup dan aktivitas mereda.
Yang kedua adalah keadaan terdepolarisasi ke atas (up state), sebuah fase di mana potensial membran bergeser mendekati ambang letup dan sel-sel meletup dengan intens.
Pergantian ini tersinkronisasi di seluruh populasi neuronal yang besar dan juga mengatur ritme tidur lainnya, termasuk kumparan tidur (spindle) dan gelombang lambat.
Perekaman EEG densitas tinggi menunjukkan bahwa setiap siklus osilasi lambat ini berperilaku sebagai gelombang yang merambat. Gelombang ini dimulai di tempat yang pasti, paling sering di area prefrontal-orbitofrontal, lalu bergerak melintasi kulit kepala dalam arah anteroposterior. Lebih jauh lagi, perkiraan kecepatannya adalah antara 1.2 hingga 7.0 meter per detik.
Seiring tidur yang semakin nyenyak, laju gelombang ini meningkat, mendekati hampir sekali per detik. Pola ini sering kali merupakan bagian dari profil bentuk gelombang EEG dewasa normal yang lebih luas di berbagai tahap tidur.
Penelitian menunjukkan bahwa asal-usul dan pola penyebaran ini dapat direproduksi di berbagai malam dan antar subjek. Para peneliti menggambarkannya sebagai cetak biru dari eksitabilitas dan konektivitas kortikal.
Gelombang cenderung mengikuti rute umum yang sama karena rute tersebut mencerminkan sifat stabil dari korteks di bawahnya. Penyebaran aktivitas berkorelasi yang teratur di sepanjang jalur yang terhubung dapat berkontribusi pada plastisitas sinaptik yang bergantung pada waktu letupan (spike timing-dependent synaptic plasticity), sebuah proses di mana waktu relatif letupan neuronal memengaruhi kekuatan koneksi. Mekanisme ini menjadi relevan kembali ketika mempertimbangkan konsolidasi memori.
Sifat aktif dari keadaan ini tampak dengan adanya EEG dan MRI fungsional yang dilakukan secara bersamaan. Pada 14 sukarelawan sehat yang tidak kurang tidur, gelombang lambat di atas 140 mikrovolt dan gelombang delta antara 75 dan 140 mikrovolt dikaitkan dengan peningkatan signifikan dalam aktivitas otak di beberapa area kortikal. Wilayah yang terlibat meliputi area frontal inferior, prefrontal medial, prekuneus, dan cingulate posterior.
Gelombang lambat juga melibatkan girus parahippocampal, serebelum, dan batang otak. Selain itu, gelombang delta menunjukkan respons yang lebih frontal.
Bukti tersebut secara langsung menantang pandangan lama tentang SWS sebagai periode keheningan otak. Selama N3, wilayah serebral tertentu menyinkronkan ke osilasi lambat dan menjadi aktif.
Mengapa Aktivitas Delta Melacak Tekanan Tidur Homeostatis
Aktivitas delta juga melacak seberapa banyak tekanan tidur yang telah terakumulasi. Aktivitas gelombang lambat, kekuatan EEG dalam rentang lambat dan delta, menurun seiring berjalannya episode tidur. Penurunan ini terjadi bahkan ketika waktu tidur digeser secara eksperimental.
Dalam satu protokol, delapan pria tinggal di lingkungan bebas petunjuk waktu selama 33 hingga 36 hari dan mengikuti siklus aktivitas-istirahat 28 jam. Episode tidur berlangsung selama 9.33 jam dan terjadi pada semua fase siklus sirkadian endogen. Desain tersebut memisahkan waktu sirkadian dari tekanan tidur homeostatis.
Di bawah kondisi ini, aktivitas gelombang lambat pada tidur non-REM menurun selama setiap episode tidur. Pola itu mengidentifikasi aktivitas gelombang lambat sebagai indeks homeostat tidur, proses internal yang melacak kebutuhan tidur.
Aktivitas gelombang lambat juga menunjukkan modulasi sirkadian amplitudo rendah, tetapi modulasi tersebut tidak sejajar dengan ritme sirkadian kecenderungan tidur. Studi yang sama menemukan ritme sirkadian yang kuat dalam tidur REM, dengan puncaknya diposisikan segera setelah nilai minimum ritme suhu tubuh inti.
Selain itu, aktivitas kumparan tidur (sleep spindle) menunjukkan ritme sirkadian endogen yang nyata, dengan puncaknya mendekati waktu tidur biasa. Namun, aktivitas gelombang lambat tidak mengikuti ritme tersebut. Kontras ini mendukung gagasan bahwa aktivitas delta terutama mencerminkan tekanan tidur homeostatis, alih-alih hasil jam sirkadian.
Penekanan eksperimental membuat hubungan homeostatis ini menjadi lebih jelas. Tasali et al. menunjukkan bahwa pada orang dewasa muda yang sehat, penekanan selektif SWS sepanjang malam mengurangi kekuatan spektral delta tanpa mengubah total waktu tidur. Intervensi tersebut mengurangi rentang frekuensi EEG yang dominan dari SWS dan membiarkan pita frekuensi EEG lainnya tidak berubah.
Oleh karena itu, aktivitas delta dapat ditekan secara independen dari durasi tidur. Desain eksperimental yang sama juga membuka uji langsung tentang apakah SWS penting bagi tubuh di luar otak.
Bagaimana Osilasi Lambat Menghubungkan Neokorteks dan Hipokampus
Nilai fungsional dari osilasi ini tampak sebagian dalam hubungan waktu mereka dengan aktivitas hipokampus. Osilasi lambat yang berasal dari neokorteks prefrontal mengelompokkan aktivitas jaringan neuronal selama N3. Pengaruh pengelompokan ini meluas ke aktivitas riak gelombang tajam (sharp wave-ripple) hipokampus.
Riak gelombang tajam adalah peristiwa hipokampus berfrekuensi tinggi yang berlangsung singkat yang diperkirakan mendukung pemutaran ulang pengalaman saat terjaga selama tidur. Pada tikus, Mölle et al. merekam EEG permukaan prefrontal, aktivitas multiunit prefrontal, dan potensi medan lokal hipokampus dari CA1 selama tidur. Mereka menghitung aktivitas riak dan kumparan tidur yang terikat waktu dengan setengah gelombang dari osilasi lambat.
Di dalamnya, mereka menemukan bahwa aktivitas riak dan riak gelombang tajam menurun selama setengah gelombang negatif dari osilasi lambat dan meningkat selama setengah gelombang positif. Fase positif permukaan yang mendepolarisasi, dan keadaan up state terkait dari eksitasi prefrontal, tampaknya mendorong riak gelombang tajam hipokampus melalui jalur eferen.
Analisis yang sangat terperinci menunjukkan bahwa keadaan up state dan down state dalam aktivitas multiunit prefrontal mendahului perubahan terkait dalam riak gelombang tajam hipokampus sekitar 30 milidetik. Pengaturan waktu ini menunjukkan bahwa neokorteks mungkin mengarahkan koordinasi temporal, alih-alih sekadar mengikuti hasil keluaran hipokampus.
Terlebih lagi, sifat gelombang merambat yang dijelaskan sebelumnya menambahkan dimensi spasial ke gagasan ini. Penyebaran osilasi lambat yang teratur di sepanjang jalur yang terhubung dapat berkontribusi pada plastisitas sinaptik yang bergantung pada waktu letupan selama tidur.
Ketika sebuah gelombang melewati wilayah yang terhubung dalam urutan yang andal, pengaturan waktu letupan neuronal menjadi dapat direproduksi. Reproduksibilitas itu adalah mekanisme kandidat untuk konsolidasi memori, karena urutan letupan yang tepat dapat memengaruhi koneksi mana yang menguat.
Data pencitraan saraf manusia menawarkan petunjuk lain. Pola respons otak yang terkait dengan gelombang SWS sebagian tumpang tindih dengan jaringan mode default (default mode network) saat terjaga, sekelompok wilayah yang aktif selama istirahat dalam keadaan terjaga dan pemikiran yang diarahkan secara internal.
Tumpang tindih ini konsisten dengan hipotesis bahwa osilasi lambat memulihkan pola aktivitas mirip terjaga-mikro (microwake-like) yang memfasilitasi interaksi neuronal. Ungkapan
Emotiv adalah pemimpin neuroteknologi yang membantu memajukan penelitian neurosains melalui alat EEG dan data otak yang mudah diakses.
Sanggahan Medis: Informasi yang disediakan di situs web ini hanya untuk tujuan edukasi dan informasi dan tidak dimaksudkan sebagai saran medis atau kesehatan. Konten ini mungkin mengandung kesalahan dan tidak boleh diandalkan untuk membuat keputusan kesehatan, medis, atau gaya hidup yang mengubah hidup. Selalu cari saran dari dokter Anda atau penyedia kesehatan berkualifikasi lainnya untuk setiap pertanyaan yang Anda miliki terkait kondisi medis atau perawatan.
Christian Burgos




