Disinformasi vs. Misinformasi

Christian Burgos

Diperbarui pada

20 Agu 2026

Disinformasi vs. Misinformasi

Christian Burgos

Diperbarui pada

20 Agu 2026

Disinformasi vs. Misinformasi

Christian Burgos

Diperbarui pada

20 Agu 2026

Misinformasi adalah konten palsu atau tidak akurat yang dibagikan tanpa niat jahat. Sebaliknya, disinformasi adalah penyesatan yang sengaja dibuat, sering kali digunakan sebagai bagian dari kampanye permusuhan untuk menyesatkan atau merugikan.

Penelitian menunjukkan bahwa disinformasi adalah strategi retoris yang disengaja yang mencampuradukkan kebohongan, setengah kebenaran, dan penilaian sarat nilai untuk mengeksploitasi kontroversi berbasis identitas. Bagi komunikator merek, memilih respons krisis yang tepat bergantung pada diagnosis yang benar tentang masalah mana yang sedang mereka hadapi, karena panduan untuk mengoreksi rumor jujur pada dasarnya berbeda dari pendekatan yang diperlukan untuk meredakan serangan yang terkoordinasi.

Ringkasan

  • Misinformasi adalah konten palsu yang dibagikan tanpa maksud berbahaya, sedangkan disinformasi adalah penyesatan yang dibuat dengan sengaja.

  • Kampanye disinformasi memanipulasi identitas, keluhan, dan rasa memiliki kelompok untuk menolak pemeriksaan fakta yang sederhana.

  • Mengoreksi misinformasi membutuhkan empati yang transparan, tetapi disinformasi membutuhkan tanggapan berbasis emosional dan identitas.

  • Disinformasi merusak kepercayaan dengan menaburkan ketidakpastian, bahkan ketika audiens mencurigai bahwa konten tersebut palsu.

  • Orang-orang membagikan konten palsu terutama karena konten tersebut sesuai dengan keyakinan mereka yang sudah ada, bukan karena otoritas sumber.

  • Label peringatan adalah alat yang menjanjikan tetapi belum terbukti, dan merek tidak boleh hanya mengandalkan label tersebut saja.

Disinformasi vs Misinformasi: Memahami Perbedaan Intinya

Garis pemisah antara misinformasi dan disinformasi adalah niat. Misinformasi berkembang secara tidak sengaja: pelanggan yang bermaksud baik membagikan pemberitahuan penarikan produk yang sudah kedaluwarsa, statistik yang salah diterjemahkan menjadi viral, atau rumor menyebar tanpa ada upaya terkoordinasi untuk merugikan. Dalam kasus-kasus ini, orang yang membagikan benar-benar percaya bahwa konten tersebut benar dan tidak memiliki keinginan untuk menyebabkan kerusakan.

Disinformasi, di sisi lain, diatur secara sengaja. Bayangkan pesaing jahat yang menyebarkan video CEO palsu ke papan pesan anonim, atau kampanye forum terkoordinasi yang menggunakan "bukti" yang dipilih secara sepihak untuk memicu kelompok identitas pembenci merek. Para pencipta bertindak dengan tujuan yang diperhitungkan untuk mengganggu, mendelegitimasi, atau mempolarisasi.

Definisi akademis tentang disinformasi memperkuat arsitektur yang disengaja ini. Sebuah studi tahun 2022 oleh Ruiz & Nilsson mendefinisikannya sebagai “kampanye musuh yang mempersenjatai berbagai strategi retoris dan bentuk pengetahuan—termasuk tidak hanya kebohongan tetapi juga kebenaran, setengah kebenaran, dan penilaian yang sarat nilai—untuk mengeksploitasi dan memperkuat kontroversi yang didorong oleh identitas.

Ini berarti pembuatannya strategis dan penipuannya berlapis; itu bukan sekadar kebohongan melainkan sebuah narasi yang dirancang untuk beresonansi dengan keluhan dan rasa kepemilikan kelompok sasaran. Ketika seorang pengguna media sosial biasa kemudian membagikan disinformasi tersebut, dengan sungguh-sungguh percaya bahwa itu akurat, mereka sekarang menyebarkan misinformasi secara pribadi, tetapi mereka secara bersamaan berpartisipasi dalam kampanye disinformasi yang lebih besar.

Bagi sebuah merek, menelusuri benang merah ini kembali ke niat asli penciptanya sangatlah penting, karena mesin motivasi di balik konten tersebut mengubah segalanya tentang bagaimana audiens akan menerima koreksi.

Contoh Misinformasi vs Disinformasi dalam Berita

Misalkan akun berita lokal memposting gambar lama selama keadaan darurat yang sedang berkembang dan mengidentifikasinya sebagai foto dari hari itu. Akun tersebut mungkin mengandalkan kiriman yang salah atau gagal memeriksa tanggal gambar tersebut.

Jika kesalahan itu murni, postingan tersebut adalah misinformasi. Koreksi di kemudian hari dapat memperjelas catatan tanpa mengubah klasifikasi aslinya.

Sekarang pertimbangkan aktor terpisah yang dengan sengaja memilih gambar lama yang sama, menghapus teks aslinya, dan menyajikannya sebagai bukti dari peristiwa terkini untuk memprovokasi ketakutan. Gambar dan klaim di sekitarnya digunakan sebagai disinformasi. Penampilan luarnya mungkin serupa, tetapi kasus kedua mencakup upaya yang disengaja untuk menyesatkan.

Konsumen dan penerbit berita juga menghadapi kasus campuran. Seseorang awalnya mungkin membagikan laporan palsu secara tidak sengaja, kemudian menerima bukti andal bahwa laporan itu palsu dan terus menyebarkannya tanpa pengakuan. Tindakan pertama mungkin berupa misinformasi; penyebaran yang terus dilakukan dengan sengaja dapat berubah karakter menjadi disinformasi.

Disinformasi dan Misinformasi vs Malinformasi

Malinformasi berbeda karena materinya mungkin asli, namun digunakan dengan cara yang dimaksudkan untuk menyesatkan, mengungkap, mengintimidasi, atau merugikan. Contohnya meliputi:

  • Mempublikasikan informasi pribadi untuk tujuan yang tidak patut

  • Sengaja mengubah konteks gambar yang autentik

  • Menyajikan pernyataan nyata sebagai bukti dari sesuatu yang tidak dapat dibuktikannya

Masalahnya terletak pada penggunaan dan pembingkaian, belum tentu pada keakuratan asli materi tersebut.

Ketiga kategori tersebut dapat tumpang tindih selama satu peristiwa informasi. Informasi asli dapat dirilis secara selektif sebagai malinformasi, dikelilingi oleh klaim buatan yang merupakan disinformasi, dan kemudian diulangi oleh pembaca yang bermaksud baik sebagai misinformasi. Oleh karena itu, memperlakukan kategori-kategori tersebut sebagai wadah yang kaku dapat mengaburkan bagaimana konten berubah saat berpindah di antara aktor dan platform.

Perbandingan di bawah ini berguna untuk analisis, namun klasifikasi harus tetap berbasis bukti. Suatu klaim tidak boleh dicap sebagai disinformasi hanya karena klaim tersebut tidak populer, bermuatan emosi, atau di kemudian hari terbukti salah. Demikian pula, label malinformasi memerlukan perhatian pada apakah materi asli sengaja diungkap atau dibingkai ulang dengan cara yang merugikan.

Manajemen Reputasi Merek: Menangani Kampanye Informasi Palsu

Mengidentifikasi dengan benar apakah suatu krisis berasal dari misinformasi atau disinformasi akan mengubah seluruh respons strategis suatu merek. Jika penyebarannya adalah misinformasi, audiens sering kali tidak terlalu bermusuhan; mereka hanya salah informasi.

Di sini, sebuah merek dapat mempublikasikan koreksi yang transparan, mengekspresikan empati yang tulus atas kebingungan apa pun, dan mengklarifikasi fakta. Kepercayaan sering kali dapat dipulihkan secara relatif langsung karena motivasi audiens adalah keakuratan, bukan keluhan.

Kampanye disinformasi, bagaimanapun, mengikuti logika yang berbeda. Narasinya berbasis identitas dan bersifat permusuhan. Ceritanya bukan tentang fakta yang dianggap palsu; ini tentang rasa memiliki, keluhan, dan identitas kelompok.

Dalam lingkungan seperti ini, pemeriksaan fakta yang hambar sering kali menjadi bumerang atau diabaikan begitu saja. Studi yang disebutkan di atas oleh Ruiz & Nilsson menunjukkan bahwa disinformasi menolak pemeriksaan fakta karena hal itu memicu kerja identitas melalui keluhan (pathos) dan identifikasi kelompok (ethos).

Ketika sebuah merek mengeluarkan bantahan yang murni faktual, audiens disinformasi dapat merasakannya sebagai serangan terhadap seluruh kelompok identitas mereka, bukan koreksi yang membantu. Oleh karena itu, tanggapan terhadap disinformasi harus mengatasi lapisan emosional dan identitas yang menyatukan narasi tersebut.

Memvalidasi kekhawatiran mendasar yang sah dari suatu komunitas sambil memisahkannya secara hati-hati dari narasi manipulatif yang telah dianyam di sekitarnya dapat mulai melonggarkan cengkeraman permusuhan yang membuat pemeriksaan fakta saja menjadi sangat tidak efektif.

Misinformasi

Disinformasi

Dibagikan tanpa niat

Sengaja menipu

Menyebar secara tidak sengaja

Kampanye terencana

Koreksi dengan empati

Atasi keluhan identitas

Bagaimana Disinformasi Mengikis Kepercayaan Tanpa Perlu Meyakinkan

Disinformasi tidak harus membodohi orang sepenuhnya untuk merusak reputasi merek. Bahkan ketika audiens mencurigai suatu cerita palsu, sisa keraguan dapat menekan keterlibatan dan loyalitas.

Sebuah studi tahun 2020 oleh Vaccari & Chadwick, yang meneliti reaksi publik terhadap video politik sintetis (deepfakes), menemukan bahwa orang lebih cenderung merasa tidak pasti daripada langsung disesatkan oleh konten semacam itu. Ketidakpastian yang dihasilkan tersebut, pada gilirannya, mengurangi kepercayaan pada berita di media sosial.

"Kebocoran" CEO deepfake, memo internal palsu, atau krisis video sintetis dapat membuat pelanggan berpikir, “Itu mungkin palsu, tapi apakah saya benar-benar yakin?” Tanda tanya tunggal ini cukup untuk melemahkan persepsi keamanan dari titik kontak merek, bahkan ketika tidak ada penipuan langsung yang dipercayai.

Ketidakpastian menjadi pengganda ancaman dalam pemasaran, secara halus menurunkan kesediaan konsumen untuk merekomendasikan, membeli, atau terlibat.

Mengapa Orang Membagikan Berita Palsu: Psikologi di Balik Misinformasi

Merek sering kali berasumsi bahwa melabeli suatu klaim sebagai "palsu" atau menyoroti sumber yang tidak dapat dipercaya akan menghentikan orang untuk membagikan konten yang merugikan. Meskipun demikian, hal ini tidak selalu terjadi.

Empat studi yang melibatkan total 2.634 partisipan mengeksplorasi apa yang sebenarnya memprediksi kemungkinan penyebaran informasi palsu secara online berdasarkan laporan mandiri. Prediktor terkuat bukanlah otoritas sumber atau indikator konsensus seperti berapa banyak orang lain yang telah membagikan materi tersebut.

Sebaliknya, kemungkinan berbagi terutama didorong oleh persepsi kebenaran konten, konsistensinya dengan sikap yang sudah ada sebelumnya, dan keakraban orang tersebut sebelumnya dengan materi tersebut. Literasi digital memiliki sedikit efek, dan variabel kepribadian serta demografis hanya menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak konsisten.

Oleh karena itu, pemeriksaan fakta atau label peringatan dari suatu merek mungkin sangat sedikit mengurangi aktivitas berbagi jika narasi palsu tersebut sudah sesuai dengan pandangan dunia audiens. Insight ini mengalihkan fokus strategis dari penyangkalan reaktif ke arah pembangunan keakraban yang autentik secara proaktif.

Ketika merek terlibat dalam penceritaan jangka panjang yang selaras dengan nilai-nilai yang membentuk sikap positif yang sudah ada sebelumnya dan membuat narasi yang jujur menjadi familier, mereka menciptakan semacam inokulasi psikologis. Orang jauh lebih kecil kemungkinannya untuk menyebarkan konten berbahaya ketika kompas internal mereka sudah menunjuk ke arah informasi yang jujur dan konsisten dengan merek yang terasa dikenal dan aman.

Hal ini selaras dengan pola ekonomi perilaku yang lebih luas, di mana orang menyukai informasi yang mengonfirmasi apa yang telah mereka percayai, tidak selalu apa yang otoritatif.

Strategi di Balik Kampanye Disinformasi

Kampanye disinformasi juga tentang arsitektur, artinya bagaimana konten dikemas dan bagaimana konten tersebut berpindah lintas platform untuk menyaring skeptisisme.

Misinformasi adalah konten palsu atau tidak akurat yang dibagikan tanpa niat jahat. Sebaliknya, disinformasi adalah penyesatan yang sengaja dibuat, sering kali digunakan sebagai bagian dari kampanye permusuhan untuk menyesatkan atau merugikan.

Penelitian menunjukkan bahwa disinformasi adalah strategi retoris yang disengaja yang mencampuradukkan kebohongan, setengah kebenaran, dan penilaian sarat nilai untuk mengeksploitasi kontroversi berbasis identitas. Bagi komunikator merek, memilih respons krisis yang tepat bergantung pada diagnosis yang benar tentang masalah mana yang sedang mereka hadapi, karena panduan untuk mengoreksi rumor jujur pada dasarnya berbeda dari pendekatan yang diperlukan untuk meredakan serangan yang terkoordinasi.

Ringkasan

  • Misinformasi adalah konten palsu yang dibagikan tanpa maksud berbahaya, sedangkan disinformasi adalah penyesatan yang dibuat dengan sengaja.

  • Kampanye disinformasi memanipulasi identitas, keluhan, dan rasa memiliki kelompok untuk menolak pemeriksaan fakta yang sederhana.

  • Mengoreksi misinformasi membutuhkan empati yang transparan, tetapi disinformasi membutuhkan tanggapan berbasis emosional dan identitas.

  • Disinformasi merusak kepercayaan dengan menaburkan ketidakpastian, bahkan ketika audiens mencurigai bahwa konten tersebut palsu.

  • Orang-orang membagikan konten palsu terutama karena konten tersebut sesuai dengan keyakinan mereka yang sudah ada, bukan karena otoritas sumber.

  • Label peringatan adalah alat yang menjanjikan tetapi belum terbukti, dan merek tidak boleh hanya mengandalkan label tersebut saja.

Disinformasi vs Misinformasi: Memahami Perbedaan Intinya

Garis pemisah antara misinformasi dan disinformasi adalah niat. Misinformasi berkembang secara tidak sengaja: pelanggan yang bermaksud baik membagikan pemberitahuan penarikan produk yang sudah kedaluwarsa, statistik yang salah diterjemahkan menjadi viral, atau rumor menyebar tanpa ada upaya terkoordinasi untuk merugikan. Dalam kasus-kasus ini, orang yang membagikan benar-benar percaya bahwa konten tersebut benar dan tidak memiliki keinginan untuk menyebabkan kerusakan.

Disinformasi, di sisi lain, diatur secara sengaja. Bayangkan pesaing jahat yang menyebarkan video CEO palsu ke papan pesan anonim, atau kampanye forum terkoordinasi yang menggunakan "bukti" yang dipilih secara sepihak untuk memicu kelompok identitas pembenci merek. Para pencipta bertindak dengan tujuan yang diperhitungkan untuk mengganggu, mendelegitimasi, atau mempolarisasi.

Definisi akademis tentang disinformasi memperkuat arsitektur yang disengaja ini. Sebuah studi tahun 2022 oleh Ruiz & Nilsson mendefinisikannya sebagai “kampanye musuh yang mempersenjatai berbagai strategi retoris dan bentuk pengetahuan—termasuk tidak hanya kebohongan tetapi juga kebenaran, setengah kebenaran, dan penilaian yang sarat nilai—untuk mengeksploitasi dan memperkuat kontroversi yang didorong oleh identitas.

Ini berarti pembuatannya strategis dan penipuannya berlapis; itu bukan sekadar kebohongan melainkan sebuah narasi yang dirancang untuk beresonansi dengan keluhan dan rasa kepemilikan kelompok sasaran. Ketika seorang pengguna media sosial biasa kemudian membagikan disinformasi tersebut, dengan sungguh-sungguh percaya bahwa itu akurat, mereka sekarang menyebarkan misinformasi secara pribadi, tetapi mereka secara bersamaan berpartisipasi dalam kampanye disinformasi yang lebih besar.

Bagi sebuah merek, menelusuri benang merah ini kembali ke niat asli penciptanya sangatlah penting, karena mesin motivasi di balik konten tersebut mengubah segalanya tentang bagaimana audiens akan menerima koreksi.

Contoh Misinformasi vs Disinformasi dalam Berita

Misalkan akun berita lokal memposting gambar lama selama keadaan darurat yang sedang berkembang dan mengidentifikasinya sebagai foto dari hari itu. Akun tersebut mungkin mengandalkan kiriman yang salah atau gagal memeriksa tanggal gambar tersebut.

Jika kesalahan itu murni, postingan tersebut adalah misinformasi. Koreksi di kemudian hari dapat memperjelas catatan tanpa mengubah klasifikasi aslinya.

Sekarang pertimbangkan aktor terpisah yang dengan sengaja memilih gambar lama yang sama, menghapus teks aslinya, dan menyajikannya sebagai bukti dari peristiwa terkini untuk memprovokasi ketakutan. Gambar dan klaim di sekitarnya digunakan sebagai disinformasi. Penampilan luarnya mungkin serupa, tetapi kasus kedua mencakup upaya yang disengaja untuk menyesatkan.

Konsumen dan penerbit berita juga menghadapi kasus campuran. Seseorang awalnya mungkin membagikan laporan palsu secara tidak sengaja, kemudian menerima bukti andal bahwa laporan itu palsu dan terus menyebarkannya tanpa pengakuan. Tindakan pertama mungkin berupa misinformasi; penyebaran yang terus dilakukan dengan sengaja dapat berubah karakter menjadi disinformasi.

Disinformasi dan Misinformasi vs Malinformasi

Malinformasi berbeda karena materinya mungkin asli, namun digunakan dengan cara yang dimaksudkan untuk menyesatkan, mengungkap, mengintimidasi, atau merugikan. Contohnya meliputi:

  • Mempublikasikan informasi pribadi untuk tujuan yang tidak patut

  • Sengaja mengubah konteks gambar yang autentik

  • Menyajikan pernyataan nyata sebagai bukti dari sesuatu yang tidak dapat dibuktikannya

Masalahnya terletak pada penggunaan dan pembingkaian, belum tentu pada keakuratan asli materi tersebut.

Ketiga kategori tersebut dapat tumpang tindih selama satu peristiwa informasi. Informasi asli dapat dirilis secara selektif sebagai malinformasi, dikelilingi oleh klaim buatan yang merupakan disinformasi, dan kemudian diulangi oleh pembaca yang bermaksud baik sebagai misinformasi. Oleh karena itu, memperlakukan kategori-kategori tersebut sebagai wadah yang kaku dapat mengaburkan bagaimana konten berubah saat berpindah di antara aktor dan platform.

Perbandingan di bawah ini berguna untuk analisis, namun klasifikasi harus tetap berbasis bukti. Suatu klaim tidak boleh dicap sebagai disinformasi hanya karena klaim tersebut tidak populer, bermuatan emosi, atau di kemudian hari terbukti salah. Demikian pula, label malinformasi memerlukan perhatian pada apakah materi asli sengaja diungkap atau dibingkai ulang dengan cara yang merugikan.

Manajemen Reputasi Merek: Menangani Kampanye Informasi Palsu

Mengidentifikasi dengan benar apakah suatu krisis berasal dari misinformasi atau disinformasi akan mengubah seluruh respons strategis suatu merek. Jika penyebarannya adalah misinformasi, audiens sering kali tidak terlalu bermusuhan; mereka hanya salah informasi.

Di sini, sebuah merek dapat mempublikasikan koreksi yang transparan, mengekspresikan empati yang tulus atas kebingungan apa pun, dan mengklarifikasi fakta. Kepercayaan sering kali dapat dipulihkan secara relatif langsung karena motivasi audiens adalah keakuratan, bukan keluhan.

Kampanye disinformasi, bagaimanapun, mengikuti logika yang berbeda. Narasinya berbasis identitas dan bersifat permusuhan. Ceritanya bukan tentang fakta yang dianggap palsu; ini tentang rasa memiliki, keluhan, dan identitas kelompok.

Dalam lingkungan seperti ini, pemeriksaan fakta yang hambar sering kali menjadi bumerang atau diabaikan begitu saja. Studi yang disebutkan di atas oleh Ruiz & Nilsson menunjukkan bahwa disinformasi menolak pemeriksaan fakta karena hal itu memicu kerja identitas melalui keluhan (pathos) dan identifikasi kelompok (ethos).

Ketika sebuah merek mengeluarkan bantahan yang murni faktual, audiens disinformasi dapat merasakannya sebagai serangan terhadap seluruh kelompok identitas mereka, bukan koreksi yang membantu. Oleh karena itu, tanggapan terhadap disinformasi harus mengatasi lapisan emosional dan identitas yang menyatukan narasi tersebut.

Memvalidasi kekhawatiran mendasar yang sah dari suatu komunitas sambil memisahkannya secara hati-hati dari narasi manipulatif yang telah dianyam di sekitarnya dapat mulai melonggarkan cengkeraman permusuhan yang membuat pemeriksaan fakta saja menjadi sangat tidak efektif.

Misinformasi

Disinformasi

Dibagikan tanpa niat

Sengaja menipu

Menyebar secara tidak sengaja

Kampanye terencana

Koreksi dengan empati

Atasi keluhan identitas

Bagaimana Disinformasi Mengikis Kepercayaan Tanpa Perlu Meyakinkan

Disinformasi tidak harus membodohi orang sepenuhnya untuk merusak reputasi merek. Bahkan ketika audiens mencurigai suatu cerita palsu, sisa keraguan dapat menekan keterlibatan dan loyalitas.

Sebuah studi tahun 2020 oleh Vaccari & Chadwick, yang meneliti reaksi publik terhadap video politik sintetis (deepfakes), menemukan bahwa orang lebih cenderung merasa tidak pasti daripada langsung disesatkan oleh konten semacam itu. Ketidakpastian yang dihasilkan tersebut, pada gilirannya, mengurangi kepercayaan pada berita di media sosial.

"Kebocoran" CEO deepfake, memo internal palsu, atau krisis video sintetis dapat membuat pelanggan berpikir, “Itu mungkin palsu, tapi apakah saya benar-benar yakin?” Tanda tanya tunggal ini cukup untuk melemahkan persepsi keamanan dari titik kontak merek, bahkan ketika tidak ada penipuan langsung yang dipercayai.

Ketidakpastian menjadi pengganda ancaman dalam pemasaran, secara halus menurunkan kesediaan konsumen untuk merekomendasikan, membeli, atau terlibat.

Mengapa Orang Membagikan Berita Palsu: Psikologi di Balik Misinformasi

Merek sering kali berasumsi bahwa melabeli suatu klaim sebagai "palsu" atau menyoroti sumber yang tidak dapat dipercaya akan menghentikan orang untuk membagikan konten yang merugikan. Meskipun demikian, hal ini tidak selalu terjadi.

Empat studi yang melibatkan total 2.634 partisipan mengeksplorasi apa yang sebenarnya memprediksi kemungkinan penyebaran informasi palsu secara online berdasarkan laporan mandiri. Prediktor terkuat bukanlah otoritas sumber atau indikator konsensus seperti berapa banyak orang lain yang telah membagikan materi tersebut.

Sebaliknya, kemungkinan berbagi terutama didorong oleh persepsi kebenaran konten, konsistensinya dengan sikap yang sudah ada sebelumnya, dan keakraban orang tersebut sebelumnya dengan materi tersebut. Literasi digital memiliki sedikit efek, dan variabel kepribadian serta demografis hanya menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak konsisten.

Oleh karena itu, pemeriksaan fakta atau label peringatan dari suatu merek mungkin sangat sedikit mengurangi aktivitas berbagi jika narasi palsu tersebut sudah sesuai dengan pandangan dunia audiens. Insight ini mengalihkan fokus strategis dari penyangkalan reaktif ke arah pembangunan keakraban yang autentik secara proaktif.

Ketika merek terlibat dalam penceritaan jangka panjang yang selaras dengan nilai-nilai yang membentuk sikap positif yang sudah ada sebelumnya dan membuat narasi yang jujur menjadi familier, mereka menciptakan semacam inokulasi psikologis. Orang jauh lebih kecil kemungkinannya untuk menyebarkan konten berbahaya ketika kompas internal mereka sudah menunjuk ke arah informasi yang jujur dan konsisten dengan merek yang terasa dikenal dan aman.

Hal ini selaras dengan pola ekonomi perilaku yang lebih luas, di mana orang menyukai informasi yang mengonfirmasi apa yang telah mereka percayai, tidak selalu apa yang otoritatif.

Strategi di Balik Kampanye Disinformasi

Kampanye disinformasi juga tentang arsitektur, artinya bagaimana konten dikemas dan bagaimana konten tersebut berpindah lintas platform untuk menyaring skeptisisme.

Misinformasi adalah konten palsu atau tidak akurat yang dibagikan tanpa niat jahat. Sebaliknya, disinformasi adalah penyesatan yang sengaja dibuat, sering kali digunakan sebagai bagian dari kampanye permusuhan untuk menyesatkan atau merugikan.

Penelitian menunjukkan bahwa disinformasi adalah strategi retoris yang disengaja yang mencampuradukkan kebohongan, setengah kebenaran, dan penilaian sarat nilai untuk mengeksploitasi kontroversi berbasis identitas. Bagi komunikator merek, memilih respons krisis yang tepat bergantung pada diagnosis yang benar tentang masalah mana yang sedang mereka hadapi, karena panduan untuk mengoreksi rumor jujur pada dasarnya berbeda dari pendekatan yang diperlukan untuk meredakan serangan yang terkoordinasi.

Ringkasan

  • Misinformasi adalah konten palsu yang dibagikan tanpa maksud berbahaya, sedangkan disinformasi adalah penyesatan yang dibuat dengan sengaja.

  • Kampanye disinformasi memanipulasi identitas, keluhan, dan rasa memiliki kelompok untuk menolak pemeriksaan fakta yang sederhana.

  • Mengoreksi misinformasi membutuhkan empati yang transparan, tetapi disinformasi membutuhkan tanggapan berbasis emosional dan identitas.

  • Disinformasi merusak kepercayaan dengan menaburkan ketidakpastian, bahkan ketika audiens mencurigai bahwa konten tersebut palsu.

  • Orang-orang membagikan konten palsu terutama karena konten tersebut sesuai dengan keyakinan mereka yang sudah ada, bukan karena otoritas sumber.

  • Label peringatan adalah alat yang menjanjikan tetapi belum terbukti, dan merek tidak boleh hanya mengandalkan label tersebut saja.

Disinformasi vs Misinformasi: Memahami Perbedaan Intinya

Garis pemisah antara misinformasi dan disinformasi adalah niat. Misinformasi berkembang secara tidak sengaja: pelanggan yang bermaksud baik membagikan pemberitahuan penarikan produk yang sudah kedaluwarsa, statistik yang salah diterjemahkan menjadi viral, atau rumor menyebar tanpa ada upaya terkoordinasi untuk merugikan. Dalam kasus-kasus ini, orang yang membagikan benar-benar percaya bahwa konten tersebut benar dan tidak memiliki keinginan untuk menyebabkan kerusakan.

Disinformasi, di sisi lain, diatur secara sengaja. Bayangkan pesaing jahat yang menyebarkan video CEO palsu ke papan pesan anonim, atau kampanye forum terkoordinasi yang menggunakan "bukti" yang dipilih secara sepihak untuk memicu kelompok identitas pembenci merek. Para pencipta bertindak dengan tujuan yang diperhitungkan untuk mengganggu, mendelegitimasi, atau mempolarisasi.

Definisi akademis tentang disinformasi memperkuat arsitektur yang disengaja ini. Sebuah studi tahun 2022 oleh Ruiz & Nilsson mendefinisikannya sebagai “kampanye musuh yang mempersenjatai berbagai strategi retoris dan bentuk pengetahuan—termasuk tidak hanya kebohongan tetapi juga kebenaran, setengah kebenaran, dan penilaian yang sarat nilai—untuk mengeksploitasi dan memperkuat kontroversi yang didorong oleh identitas.

Ini berarti pembuatannya strategis dan penipuannya berlapis; itu bukan sekadar kebohongan melainkan sebuah narasi yang dirancang untuk beresonansi dengan keluhan dan rasa kepemilikan kelompok sasaran. Ketika seorang pengguna media sosial biasa kemudian membagikan disinformasi tersebut, dengan sungguh-sungguh percaya bahwa itu akurat, mereka sekarang menyebarkan misinformasi secara pribadi, tetapi mereka secara bersamaan berpartisipasi dalam kampanye disinformasi yang lebih besar.

Bagi sebuah merek, menelusuri benang merah ini kembali ke niat asli penciptanya sangatlah penting, karena mesin motivasi di balik konten tersebut mengubah segalanya tentang bagaimana audiens akan menerima koreksi.

Contoh Misinformasi vs Disinformasi dalam Berita

Misalkan akun berita lokal memposting gambar lama selama keadaan darurat yang sedang berkembang dan mengidentifikasinya sebagai foto dari hari itu. Akun tersebut mungkin mengandalkan kiriman yang salah atau gagal memeriksa tanggal gambar tersebut.

Jika kesalahan itu murni, postingan tersebut adalah misinformasi. Koreksi di kemudian hari dapat memperjelas catatan tanpa mengubah klasifikasi aslinya.

Sekarang pertimbangkan aktor terpisah yang dengan sengaja memilih gambar lama yang sama, menghapus teks aslinya, dan menyajikannya sebagai bukti dari peristiwa terkini untuk memprovokasi ketakutan. Gambar dan klaim di sekitarnya digunakan sebagai disinformasi. Penampilan luarnya mungkin serupa, tetapi kasus kedua mencakup upaya yang disengaja untuk menyesatkan.

Konsumen dan penerbit berita juga menghadapi kasus campuran. Seseorang awalnya mungkin membagikan laporan palsu secara tidak sengaja, kemudian menerima bukti andal bahwa laporan itu palsu dan terus menyebarkannya tanpa pengakuan. Tindakan pertama mungkin berupa misinformasi; penyebaran yang terus dilakukan dengan sengaja dapat berubah karakter menjadi disinformasi.

Disinformasi dan Misinformasi vs Malinformasi

Malinformasi berbeda karena materinya mungkin asli, namun digunakan dengan cara yang dimaksudkan untuk menyesatkan, mengungkap, mengintimidasi, atau merugikan. Contohnya meliputi:

  • Mempublikasikan informasi pribadi untuk tujuan yang tidak patut

  • Sengaja mengubah konteks gambar yang autentik

  • Menyajikan pernyataan nyata sebagai bukti dari sesuatu yang tidak dapat dibuktikannya

Masalahnya terletak pada penggunaan dan pembingkaian, belum tentu pada keakuratan asli materi tersebut.

Ketiga kategori tersebut dapat tumpang tindih selama satu peristiwa informasi. Informasi asli dapat dirilis secara selektif sebagai malinformasi, dikelilingi oleh klaim buatan yang merupakan disinformasi, dan kemudian diulangi oleh pembaca yang bermaksud baik sebagai misinformasi. Oleh karena itu, memperlakukan kategori-kategori tersebut sebagai wadah yang kaku dapat mengaburkan bagaimana konten berubah saat berpindah di antara aktor dan platform.

Perbandingan di bawah ini berguna untuk analisis, namun klasifikasi harus tetap berbasis bukti. Suatu klaim tidak boleh dicap sebagai disinformasi hanya karena klaim tersebut tidak populer, bermuatan emosi, atau di kemudian hari terbukti salah. Demikian pula, label malinformasi memerlukan perhatian pada apakah materi asli sengaja diungkap atau dibingkai ulang dengan cara yang merugikan.

Manajemen Reputasi Merek: Menangani Kampanye Informasi Palsu

Mengidentifikasi dengan benar apakah suatu krisis berasal dari misinformasi atau disinformasi akan mengubah seluruh respons strategis suatu merek. Jika penyebarannya adalah misinformasi, audiens sering kali tidak terlalu bermusuhan; mereka hanya salah informasi.

Di sini, sebuah merek dapat mempublikasikan koreksi yang transparan, mengekspresikan empati yang tulus atas kebingungan apa pun, dan mengklarifikasi fakta. Kepercayaan sering kali dapat dipulihkan secara relatif langsung karena motivasi audiens adalah keakuratan, bukan keluhan.

Kampanye disinformasi, bagaimanapun, mengikuti logika yang berbeda. Narasinya berbasis identitas dan bersifat permusuhan. Ceritanya bukan tentang fakta yang dianggap palsu; ini tentang rasa memiliki, keluhan, dan identitas kelompok.

Dalam lingkungan seperti ini, pemeriksaan fakta yang hambar sering kali menjadi bumerang atau diabaikan begitu saja. Studi yang disebutkan di atas oleh Ruiz & Nilsson menunjukkan bahwa disinformasi menolak pemeriksaan fakta karena hal itu memicu kerja identitas melalui keluhan (pathos) dan identifikasi kelompok (ethos).

Ketika sebuah merek mengeluarkan bantahan yang murni faktual, audiens disinformasi dapat merasakannya sebagai serangan terhadap seluruh kelompok identitas mereka, bukan koreksi yang membantu. Oleh karena itu, tanggapan terhadap disinformasi harus mengatasi lapisan emosional dan identitas yang menyatukan narasi tersebut.

Memvalidasi kekhawatiran mendasar yang sah dari suatu komunitas sambil memisahkannya secara hati-hati dari narasi manipulatif yang telah dianyam di sekitarnya dapat mulai melonggarkan cengkeraman permusuhan yang membuat pemeriksaan fakta saja menjadi sangat tidak efektif.

Misinformasi

Disinformasi

Dibagikan tanpa niat

Sengaja menipu

Menyebar secara tidak sengaja

Kampanye terencana

Koreksi dengan empati

Atasi keluhan identitas

Bagaimana Disinformasi Mengikis Kepercayaan Tanpa Perlu Meyakinkan

Disinformasi tidak harus membodohi orang sepenuhnya untuk merusak reputasi merek. Bahkan ketika audiens mencurigai suatu cerita palsu, sisa keraguan dapat menekan keterlibatan dan loyalitas.

Sebuah studi tahun 2020 oleh Vaccari & Chadwick, yang meneliti reaksi publik terhadap video politik sintetis (deepfakes), menemukan bahwa orang lebih cenderung merasa tidak pasti daripada langsung disesatkan oleh konten semacam itu. Ketidakpastian yang dihasilkan tersebut, pada gilirannya, mengurangi kepercayaan pada berita di media sosial.

"Kebocoran" CEO deepfake, memo internal palsu, atau krisis video sintetis dapat membuat pelanggan berpikir, “Itu mungkin palsu, tapi apakah saya benar-benar yakin?” Tanda tanya tunggal ini cukup untuk melemahkan persepsi keamanan dari titik kontak merek, bahkan ketika tidak ada penipuan langsung yang dipercayai.

Ketidakpastian menjadi pengganda ancaman dalam pemasaran, secara halus menurunkan kesediaan konsumen untuk merekomendasikan, membeli, atau terlibat.

Mengapa Orang Membagikan Berita Palsu: Psikologi di Balik Misinformasi

Merek sering kali berasumsi bahwa melabeli suatu klaim sebagai "palsu" atau menyoroti sumber yang tidak dapat dipercaya akan menghentikan orang untuk membagikan konten yang merugikan. Meskipun demikian, hal ini tidak selalu terjadi.

Empat studi yang melibatkan total 2.634 partisipan mengeksplorasi apa yang sebenarnya memprediksi kemungkinan penyebaran informasi palsu secara online berdasarkan laporan mandiri. Prediktor terkuat bukanlah otoritas sumber atau indikator konsensus seperti berapa banyak orang lain yang telah membagikan materi tersebut.

Sebaliknya, kemungkinan berbagi terutama didorong oleh persepsi kebenaran konten, konsistensinya dengan sikap yang sudah ada sebelumnya, dan keakraban orang tersebut sebelumnya dengan materi tersebut. Literasi digital memiliki sedikit efek, dan variabel kepribadian serta demografis hanya menunjukkan hubungan yang lemah dan tidak konsisten.

Oleh karena itu, pemeriksaan fakta atau label peringatan dari suatu merek mungkin sangat sedikit mengurangi aktivitas berbagi jika narasi palsu tersebut sudah sesuai dengan pandangan dunia audiens. Insight ini mengalihkan fokus strategis dari penyangkalan reaktif ke arah pembangunan keakraban yang autentik secara proaktif.

Ketika merek terlibat dalam penceritaan jangka panjang yang selaras dengan nilai-nilai yang membentuk sikap positif yang sudah ada sebelumnya dan membuat narasi yang jujur menjadi familier, mereka menciptakan semacam inokulasi psikologis. Orang jauh lebih kecil kemungkinannya untuk menyebarkan konten berbahaya ketika kompas internal mereka sudah menunjuk ke arah informasi yang jujur dan konsisten dengan merek yang terasa dikenal dan aman.

Hal ini selaras dengan pola ekonomi perilaku yang lebih luas, di mana orang menyukai informasi yang mengonfirmasi apa yang telah mereka percayai, tidak selalu apa yang otoritatif.

Strategi di Balik Kampanye Disinformasi

Kampanye disinformasi juga tentang arsitektur, artinya bagaimana konten dikemas dan bagaimana konten tersebut berpindah lintas platform untuk menyaring skeptisisme.

Lanjutkan membaca

7 Teknik Klasik dalam Propaganda dan Bagaimana Mereka Membentuk Beranda Anda Hari Ini