10 GAME CHANGERS untuk Dekade Berikutnya bagi Rantai Pasokan - Emotiv

10 GAME CHANGERS untuk Dekade Berikutnya bagi Rantai Pasok

Quoc Minh Lai

Diperbarui pada

20 Nov 2020

10 GAME CHANGERS untuk Dekade Berikutnya bagi Rantai Pasokan - Emotiv

10 GAME CHANGERS untuk Dekade Berikutnya bagi Rantai Pasok

Quoc Minh Lai

Diperbarui pada

20 Nov 2020

10 GAME CHANGERS untuk Dekade Berikutnya bagi Rantai Pasokan - Emotiv

10 GAME CHANGERS untuk Dekade Berikutnya bagi Rantai Pasok

Quoc Minh Lai

Diperbarui pada

20 Nov 2020

Perubahan signifikan pada teknologi dan tren akan mendisrupsi rantai pasok yang kita ketahui selama ini.

Berbagai peristiwa dalam beberapa bulan terakhir memperjelas betapa tidak mudah memprediksi seperti apa rantai pasok satu tahun yang akan datang, apalagi dalam kurun waktu 10 tahun dari sekarang. Di luar ketidakpastian tersebut, bagaimanapun, ada beberapa teknologi dan tren yang akan membentuk rantai pasok selagi kita memasuki dekade berikutnya. Berikut merupakan 10 contohnya.

1. Tenaga kerja yang beragam dengan keterampilan berbeda

“Jika Anda membandingkan tenaga kerja saat ini dengan 10 tahun yang lalu, ada perubahan yang sangat besar. Memang tidak mudah bagi orang-orang untuk memahami jenis pekerjaan baru seperti apa yang akan muncul 10 tahun mendatang,” kata George Prest, CEO MHI. “Tetapi saya tahu keahlian seperti apa yang nantinya mutlak diperlukan. Berpikir kritis akan menjadi aspek utama, dan setiap individu harus bersedia lebih mudah beradaptasi serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, karena pekerjaan akan berubah dengan tempo yang jauh lebih cepat.”

Sistem pendidikan harus disesuaikan demi melahirkan calon pekerja yang dibutuhkan oleh industri rantai pasok, ujarnya. “Namun, dunia korporasi juga wajib bergerak dengan gesit. Apabila perusahaan ingin mempertahankan talenta terbaik mereka, perusahaan mutlak perlu terus menyediakan peluang pengembangan diri bagi karyawannya.”

Lingkungan kerja pada tahun 2030 akan menjadi lebih bernuansa digital dan inovatif demi memastikan angkatan kerja lintas lima generasi dapat berkolaborasi secara optimal, papar Thomas Boykin, spesialis rantai pasok dan operasi jaringan dari Deloitte Consulting. Generasi muda mengharapkan kehadiran teknologi dan inovasi di tempat kerja yang mutakhir seperti halnya di rumah mereka. Sementara itu, pekerja yang lebih senior membutuhkan teknologi dengan antarmuka yang intuitif demi menunjang produktivitas dan efisiensi kerja mereka. Robotika nantinya akan berkolaborasi erat dengan para pekerja ini untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas yang lebih penting dengan memangkas pekerjaan yang repetitif dan menuntut kekuatan fisik.

2. Peningkatan pemanfaatan teknologi VR

Perusahaan akan menerapkan teknologi virtual reality (VR) untuk melatih angkatan kerja yang terdiri dari berbagai generasi ini.

“Ada perbedaan dalam cara generasi muda belajar jika dibandingkan dengan metode pembelajaran 40 atau 50 tahun silam. Metode pelatihan harus dibuat lebih fleksibel dan terintegrasi dengan teknologi agar efektivitasnya lebih maksimal,” imbuh Boykin.

Sebagai gambaran, penggunaan VR untuk melatih operator forklift akan menekan potensi cedera pada pekerja dan meminimalisasi kerusakan produk. Di era sekarang, calon pekerja umumnya langsung diberi kunci unit setelah melalui beberapa jam pembekalan teori di kelas. “Mereka langsung mengemudi, menabrak barang, dan baru mahir seiring berjalannya waktu. Tetapi selama proses belajar tersebut, mereka kerap memicu kerugian,” tambah Boykin. “Ke depannya, seluruh kegiatan pelatihan ini akan dilakukan dengan sarana VR. Pengalamannya akan terasa sangat nyata sehingga pekerja dapat berlatih tanpa risiko merusak inventaris fisik. Metode ini juga terbukti efektif meningkatkan rasa percaya diri mereka.”

3. Mengoptimalkan potensi otak

Seseorang yang mengalami stres atau kelelahan ekstrem mustahil dapat fokus bekerja, sehingga performa mereka menurun dan bahkan membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang di sekitarnya. Dalam 10 tahun ke depan, kemajuan di bidang neuroteknologi diprediksi dapat membantu pekerja memantau kinerja kognitif serta kondisi emosional guna menganalisis secara ilmiah kapan kondisi tubuh mereka mulai menurun dan butuh beristirahat.

Sains neuroteknologi berakar pada ilmu neurologi, yang mempelajari cara sistem saraf memengaruhi perilaku manusia. Implementasi teknologi modern ini bahkan sudah mulai diterapkan di lingkungan kerja. Salah satu perusahaan penyedia neuroteknologi, Emotiv, telah merancang antarmuka otak-komputer yang mampu memantau tingkat stres dan atensi pekerja secara real-time. Pihak manajemen dapat memanfaatkan data tersebut untuk merancang program keselamatan dan kesejahteraan yang tepat ketika tingkat konsentrasi karyawan mulai menurun saat bekerja.

“Banyak insiden kecelakaan terjadi akibat hilangnya konsentrasi dan kondisi stres pekerja,” ujar Olivier Oullier, direktur utama Emotiv. Bayangkan, misalnya, seorang operator forklift yang kelelahan tengah memindahkan kontainer berisi bahan biokimia berbahaya di area gudang. Kelengahan atau hilangnya fokus sesaat saja dapat memicu kesalahan fatal yang mengancam nyawa. Tragedi semacam itu sejatinya dapat dihindari apabila karyawan tersebut dibekali dengan teknologi pemantau aktivitas otak.

Pekerja kantor yang memantau tingkat stres dan konsentrasi mereka akan tahu persis kapan waktu yang tepat untuk beristirahat saat fokus mereka menurun. “Hal ini tidak hanya menjaga kesehatan karyawan tetapi juga mendukung produktivitas kerja karena mereka memiliki kesempatan untuk memulihkan energi,” kata Oullier.

Neuroteknologi juga menawarkan alternatif baru interaksi antara manusia dengan mesin. Perangkat dan algoritme machine-learning dari Emotiv mampu mengonversi gelombang otak menjadi sinyal digital guna mengoperasikan instrumen virtual maupun fisik, seperti keyboard komputer. Hal ini berpotensi membuka lapangan pekerjaan baru yang lebih luas bagi penyandang disabilitas di sektor industri rantai pasok.

4. Memperoleh Insight berharga melalui integrasi teknologi

Memasuki dekade selanjutnya, pelaku usaha dituntut lebih cakap dalam mengumpulkan sekaligus memanfaatkan data sebagai landasan pengambilan keputusan bisnis.

“Sensor dan IoT adalah fondasi utamanya, dan dalam 10 tahun ke depan, bahkan mungkin lebih cepat, teknologi tersebut akan dianggap sebagai kebutuhan mendasar, sama halnya dengan listrik di era sekarang,” kata Prest.

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan data ini, korporasi juga perlu mengadopsi teknologi pendukung lainnya seperti komputasi awan (cloud), penyimpanan awan, analitik data, machine learning, serta kecerdasan buatan (AI).

“Tidak ada satu teknologi pun yang dapat berdiri sendiri secara terpisah,” terang Boykin. “Teknologi AI, yang penerapannya kini semakin masif, akan menjadi motor penggerak utama perubahan selama 10 tahun mendatang, namun kinerjanya tetap bergantung pada bantuan teknologi penunjang lainnya.” AI, analitik prediktif, dan analitik preskriptif merupakan bagian puncak dari hierarki sistem ini, yang kinerjanya ditopang oleh proses pengumpulan, transmisi, pembagian, serta analisis data.

Sepuluh tahun dari sekarang, biaya investasi untuk teknologi AI dan sistem pendukungnya diproyeksikan akan semakin terjangkau, sehingga dapat diterapkan oleh bisnis dari segala skala usaha, tambah Boykin. Mereka nantinya akan mengandalkan analitik prediktif untuk memproyeksikan estimasi masa depan dan analitik preskriptif guna menentukan langkah strategis apa yang harus diambil guna menyikapi proyeksi tersebut.

“Peran teknologi AI masuk di sini karena tidak semua keputusan taktis harus dieksekusi secara manual oleh pekerja,” tambah Boykin. Sebagian keputusan bisnis akan diambil secara otomatis oleh sistem AI, yang telah diprogram untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut melalui integrasi mesin dan komputer, tanpa perlu bergantung pada instruksi atau interpretasi manusia.

5. Implementasi konsep Unichannel

Pelaku ritel yang ingin tetap kompetitif di dekade mendatang wajib meningkatkan model bisnis mereka dari sekadar omnichannel menjadi unichannel, menurut penuturan Jim Tompkins, komisaris sekaligus CEO dari Tompkins International yang juga merupakan anggota MHI.

Saat ini masih banyak perusahaan yang mengoperasikan sistem inventaris serta manajemen berbeda antara pelanggan fisik (offline) dan pelanggan daring (online), atau memisahkan sistem untuk pusat distribusi, pusat pemenuhan pesanan, pusat retur, serta unit likuidasi produk. Konsep unichannel—singkatan dari unified channels—mengintegrasikan seluruh informasi inventaris peritel serta riwayat interaksi dengan pelanggan daring maupun fisik, mulai dari aktivitas pencarian, pembelian, hingga pengembalian barang, ke dalam satu sistem manajemen terpadu. Hal ini memungkinkan jaringan ritel menghadirkan pengalaman berbelanja yang konsisten dan praktis bagi konsumen, baik ketika membeli maupun meretur barang secara daring, langsung di toko, atau melalui kombinasi keduanya.

Melalui pendekatan unichannel, peritel dapat membagikan informasi ketersediaan inventaris di seluruh portofolio merek mereka, lalu memanfaatkan data tersebut demi mempercepat pemenuhan pesanan dari situs web yang menyasar segmentasi pelanggan tertentu.

Unichannel juga menyajikan metrik berharga bagi pelaku ritel mengenai preferensi cara belanja pelanggan mereka. Sebagai contoh, toko fisik mungkin menawarkan paket berisi empat mainan figur aksi, sementara toko daring dan pusat likuidasi menjual figur yang sama secara satuan. Bermodalkan akses data yang terintegrasi dari ketiga lini tersebut, peritel dapat dengan mudah memetakan karakter mana yang paling diminati untuk kemudian disesuaikan dengan volume pemesanan stok berikutnya.

6. Visibilitas menyeluruh dari hulu ke hilir

Aspek visibilitas dalam industri rantai pasok kini menjadi kian krusial seiring upaya korporasi membangun sistem pertukaran data serta kolaborasi yang solid bersama para pemasok dan mitra bisnis mereka. Di sisi lain, konsumen saat ini juga menuntut transparansi informasi, tidak hanya sebatas status pengiriman barang mereka, melainkan juga terkait asal-usul produk yang mereka beli dari pasar. Berdasarkan latar belakang tersebut, dalam waktu dekat, visibilitas end-to-end akan menjadi standar layanan minimum sekaligus instrumen pembeda utama bagi sebuah merek dari para kompetitornya.

“Teknologi blockchain akan menjadi kunci penting dari hal ini,” jelas Prest. “Tiga atau empat tahun yang lalu, ketika terjadi kasus kontaminasi bakteri E. coli pada selada, Walmart membutuhkan waktu hingga 10 hari melacak area perkebunan asal komoditas tersebut. Selama proses penyelidikan berlangsung, mereka terpaksa menghentikan seluruh operasional penjualan selada.

“Namun saat insiden serupa terulang kembali musim gugur lalu, mereka sukses melacak sumber masalahnya hanya dalam hitungan dua detik saja karena telah menerapkan teknologi blockchain. Efektivitas ini memberikan dampak penyelamatan finansial yang sangat signifikan bagi perusahaan,” tuturnya.

Ke depannya, para pelaku usaha harus mulai meninggalkan kebiasaan menutup-nutupi informasi bisnis mereka dan beralih ke pola operasional yang lebih kolaboratif dan transparan. “Berdasarkan pengalaman saya, semakin erat kemitraan kolaboratif yang Anda bangun, maka semakin sukses pula bisnis semua pihak yang terlibat di dalamnya,” kata Prest.

7. Fasilitas distribusi pintar

Saat biaya operasional masih mendominasi pengeluaran logistik, perusahaan cenderung memilih fasilitas gudang besar terotomatisasi sebagai pusat konsolidasi seluruh pesanan gudang. Setelah itu, muncul tren pergeseran ke arah pembangunan fasilitas regional demi mendekatkan lokasi penyimpanan dengan domisili pelanggan.

Kini, perilaku belanja konsumen telah bergeser ke arah e-commerce dan mereka mengharapkan durasi pengiriman barang yang lebih cepat. Tren tersebut diprediksi akan terus menguat bahkan setelah masa karantina pandemi COVID-19 usai.

Menyikapi fenomena ini, perusahaan sekarang mulai melirik apa yang diistilahkan oleh Deloitte Consulting sebagai pusat distribusi perkotaan pintar (smart city distribution facilities). Berlokasi di dalam atau di batas luar perkotaan, pusat distribusi (DC) ini akan berukuran lebih ringkas dengan bangunan bertingkat karena keterbatasan dan mahalnya harga lahan perkotaan, jelas Boykin. Aktivitas pengisian kembali stok barang di fasilitas ini akan dijadwalkan di luar jam sibuk saat lalu lintas lengang, dan sebagian pengiriman pesanan kemungkinan dilakukan dengan armada trailer swakemudi (autonomous tractor).

Implikasi dari situasi pandemi COVID-19 juga turut memengaruhi pergeseran ini. Apabila tren bekerja dari rumah (WFH) yang dipicu oleh aturan pembatasan COVID-19 terus berlanjut dalam jangka panjang, ruang perkantoran yang mulai ditinggalkan pekerja dapat dialihfungsikan menjadi pusat distribusi pintar perkotaan guna mengoptimalkan layanan pengiriman belanja e-commerce di wilayah-wilayah strategis tersebut.

8. Penerapan robotika untuk kustomisasi produk

“Salah satu tantangan industri rantai pasok yang kami amati dalam beberapa dekade mendatang adalah semakin tingginya permintaan terhadap kustomisasi produk,” ucap Melonee Wise, CEO dari Fetch Robotics yang juga merupakan anggota MHI. “Masyarakat kini lebih menyukai barang-barang personal berskala produksi kecil, dan kehadiran teknologi robotika yang bervariasi sangat membantu mewujudkan fleksibilitas kustomisasi tersebut.”

Mengingat konsumen mendambakan pengiriman produk yang cepat, proses kustomisasi semacam ini kemungkinan besar akan dilakukan di tingkat lokal, tepatnya di dalam pusat-pusat distribusi berukuran kecil, alih-alih di pabrik manufaktur skala besar. Sistem otomasi kecil ini nantinya akan dioperasikan untuk memodifikasi atau memberikan sentuhan personal pada berbagai jenis produk, mulai dari bantal tidur, sweter, cangkir kopi, hingga aksesori meja kerja.

Kehadiran mesin cetak 3D (3D printer) juga akan menjadi bagian dari sistem otomasi di pusat distribusi lokal ini, siap memproduksi komponen suku cadang peralatan rumah tangga yang jarang dipesan atau membuat perangkat medis khusus yang bersifat personal.

9. Efek limpahan pandemi

Terlepas dari berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai penyebaran COVID-19 benar-benar terkendali, dampak susulan dari virus ini akan terus membayangi kinerja industri rantai pasok global sepanjang dekade mendatang.

Prest meyakini bahwa perusahaan yang sebelumnya terlalu bergantung pada satu jalur rantai pasok tunggal di satu negara saja (seperti Tiongkok) akan mulai berbenah menjadi lebih fleksibel, salah satunya dengan membangun sistem cadangan melalui skema operasional dekat pantai (near-shore).

Pandemi juga diproyeksikan mempercepat adopsi sistem otomasi dan robotika. Beberapa minggu setelah virus corona merebak di wilayah AS, di saat pusat-pusat distribusi berjuang meminimalkan risiko penularan penyakit di antara staf mereka, integrasi sistem otomatis hadir menawarkan solusi operasional yang efektif.

“Kami melihat banyak klien mulai memberdayakan teknologi robot untuk menerapkan pembatasan jarak fisik antarpekerja dengan tetap mempertahankan kapasitas output produksi yang sama,” ungkap Wise. “Menurut saya, tantangan terbesarnya ditekankan pada berapa lama waktu yang diperlukan bagi pelaku industri untuk menerapkan teknologi baru ini sekaligus beradaptasi dengan perubahan masif akibat efek jangka panjang COVID-19. Bagi korporasi yang bergerak dinamis, masa transisi ini mungkin memakan waktu dua hingga tiga tahun; sementara bagi korporasi yang lambat merespons, prosesnya bisa memakan waktu antara lima hingga 10 tahun.”

10. Fase "the next normal"

Banyak orang membicarakan istilah “the new normal” pascapandemi, padahal seharusnya mereka bersiap menghadapi fase “the next normal”, tutur Tompkins. Lebih dari era sebelumnya, konsep VUCA—volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity—akan memberikan dampak yang sangat besar pada industri rantai pasok serta tatanan dunia secara global. Perubahan yang terjadi secara terus-menerus akan menjadi hal yang lumrah.

Istilah VUCA pada awalnya banyak digunakan untuk menggambarkan pesatnya laju inovasi akibat hadirnya teknologi digital. “Kini kita menyadari bahwa disrupsi terbagi menjadi dua kategori utama; yaitu disrupsi inovasi dan disrupsi krisis,” tambah Tompkins.

Volume transaksi e-commerce sejatinya telah tumbuh pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya bahkan sebelum krisis kesehatan global melanda. “Sekarang, aktivitas belanja bahan makanan secara daring meroket dari semula 2% menjadi 20% hanya dalam kurun waktu satu bulan, dan masyarakat mulai menyukai kepraktisan metode ini. Jadi, tren pertumbuhan e-commerce dan situasi pandemi kini bertransisi secara bersamaan,” imbuhnya.

“Fenomena yang akan kita saksikan kelak adalah kondisi VUCA dalam skala yang jauh lebih ekstrem,” kata Tompkins. “Konsep VUCA akan menjadi realitas utama yang mendominasi jalannya industri.”

Meskipun sistem rantai pasok pada tahun 2030 mendatang masih mempertahankan beberapa elemen dasar yang kita gunakan saat ini, akan ada banyak sekali perubahan yang terjadi. “Sistemnya akan jauh lebih modern, ukuran fasilitas penyimpanan akan lebih compact, teknologi pendukung akan lebih terintegrasi dan mulus, serta para pekerja akan lebih terhubung satu sama lain,” pungkas Boykin. “Seluruh proses akan berjalan secara harmonis dan tersinkronisasi, di mana setiap mata rantai akan saling bertukar informasi digital secara real-time. Perusahaan nantinya akan bersaing pada level kompetisi yang sama sekali baru dibanding sekarang.”

Sumber: www.mhisolutions-digital.com oleh MARY LOU JAY

Perubahan signifikan pada teknologi dan tren akan mendisrupsi rantai pasok yang kita ketahui selama ini.

Berbagai peristiwa dalam beberapa bulan terakhir memperjelas betapa tidak mudah memprediksi seperti apa rantai pasok satu tahun yang akan datang, apalagi dalam kurun waktu 10 tahun dari sekarang. Di luar ketidakpastian tersebut, bagaimanapun, ada beberapa teknologi dan tren yang akan membentuk rantai pasok selagi kita memasuki dekade berikutnya. Berikut merupakan 10 contohnya.

1. Tenaga kerja yang beragam dengan keterampilan berbeda

“Jika Anda membandingkan tenaga kerja saat ini dengan 10 tahun yang lalu, ada perubahan yang sangat besar. Memang tidak mudah bagi orang-orang untuk memahami jenis pekerjaan baru seperti apa yang akan muncul 10 tahun mendatang,” kata George Prest, CEO MHI. “Tetapi saya tahu keahlian seperti apa yang nantinya mutlak diperlukan. Berpikir kritis akan menjadi aspek utama, dan setiap individu harus bersedia lebih mudah beradaptasi serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, karena pekerjaan akan berubah dengan tempo yang jauh lebih cepat.”

Sistem pendidikan harus disesuaikan demi melahirkan calon pekerja yang dibutuhkan oleh industri rantai pasok, ujarnya. “Namun, dunia korporasi juga wajib bergerak dengan gesit. Apabila perusahaan ingin mempertahankan talenta terbaik mereka, perusahaan mutlak perlu terus menyediakan peluang pengembangan diri bagi karyawannya.”

Lingkungan kerja pada tahun 2030 akan menjadi lebih bernuansa digital dan inovatif demi memastikan angkatan kerja lintas lima generasi dapat berkolaborasi secara optimal, papar Thomas Boykin, spesialis rantai pasok dan operasi jaringan dari Deloitte Consulting. Generasi muda mengharapkan kehadiran teknologi dan inovasi di tempat kerja yang mutakhir seperti halnya di rumah mereka. Sementara itu, pekerja yang lebih senior membutuhkan teknologi dengan antarmuka yang intuitif demi menunjang produktivitas dan efisiensi kerja mereka. Robotika nantinya akan berkolaborasi erat dengan para pekerja ini untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas yang lebih penting dengan memangkas pekerjaan yang repetitif dan menuntut kekuatan fisik.

2. Peningkatan pemanfaatan teknologi VR

Perusahaan akan menerapkan teknologi virtual reality (VR) untuk melatih angkatan kerja yang terdiri dari berbagai generasi ini.

“Ada perbedaan dalam cara generasi muda belajar jika dibandingkan dengan metode pembelajaran 40 atau 50 tahun silam. Metode pelatihan harus dibuat lebih fleksibel dan terintegrasi dengan teknologi agar efektivitasnya lebih maksimal,” imbuh Boykin.

Sebagai gambaran, penggunaan VR untuk melatih operator forklift akan menekan potensi cedera pada pekerja dan meminimalisasi kerusakan produk. Di era sekarang, calon pekerja umumnya langsung diberi kunci unit setelah melalui beberapa jam pembekalan teori di kelas. “Mereka langsung mengemudi, menabrak barang, dan baru mahir seiring berjalannya waktu. Tetapi selama proses belajar tersebut, mereka kerap memicu kerugian,” tambah Boykin. “Ke depannya, seluruh kegiatan pelatihan ini akan dilakukan dengan sarana VR. Pengalamannya akan terasa sangat nyata sehingga pekerja dapat berlatih tanpa risiko merusak inventaris fisik. Metode ini juga terbukti efektif meningkatkan rasa percaya diri mereka.”

3. Mengoptimalkan potensi otak

Seseorang yang mengalami stres atau kelelahan ekstrem mustahil dapat fokus bekerja, sehingga performa mereka menurun dan bahkan membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang di sekitarnya. Dalam 10 tahun ke depan, kemajuan di bidang neuroteknologi diprediksi dapat membantu pekerja memantau kinerja kognitif serta kondisi emosional guna menganalisis secara ilmiah kapan kondisi tubuh mereka mulai menurun dan butuh beristirahat.

Sains neuroteknologi berakar pada ilmu neurologi, yang mempelajari cara sistem saraf memengaruhi perilaku manusia. Implementasi teknologi modern ini bahkan sudah mulai diterapkan di lingkungan kerja. Salah satu perusahaan penyedia neuroteknologi, Emotiv, telah merancang antarmuka otak-komputer yang mampu memantau tingkat stres dan atensi pekerja secara real-time. Pihak manajemen dapat memanfaatkan data tersebut untuk merancang program keselamatan dan kesejahteraan yang tepat ketika tingkat konsentrasi karyawan mulai menurun saat bekerja.

“Banyak insiden kecelakaan terjadi akibat hilangnya konsentrasi dan kondisi stres pekerja,” ujar Olivier Oullier, direktur utama Emotiv. Bayangkan, misalnya, seorang operator forklift yang kelelahan tengah memindahkan kontainer berisi bahan biokimia berbahaya di area gudang. Kelengahan atau hilangnya fokus sesaat saja dapat memicu kesalahan fatal yang mengancam nyawa. Tragedi semacam itu sejatinya dapat dihindari apabila karyawan tersebut dibekali dengan teknologi pemantau aktivitas otak.

Pekerja kantor yang memantau tingkat stres dan konsentrasi mereka akan tahu persis kapan waktu yang tepat untuk beristirahat saat fokus mereka menurun. “Hal ini tidak hanya menjaga kesehatan karyawan tetapi juga mendukung produktivitas kerja karena mereka memiliki kesempatan untuk memulihkan energi,” kata Oullier.

Neuroteknologi juga menawarkan alternatif baru interaksi antara manusia dengan mesin. Perangkat dan algoritme machine-learning dari Emotiv mampu mengonversi gelombang otak menjadi sinyal digital guna mengoperasikan instrumen virtual maupun fisik, seperti keyboard komputer. Hal ini berpotensi membuka lapangan pekerjaan baru yang lebih luas bagi penyandang disabilitas di sektor industri rantai pasok.

4. Memperoleh Insight berharga melalui integrasi teknologi

Memasuki dekade selanjutnya, pelaku usaha dituntut lebih cakap dalam mengumpulkan sekaligus memanfaatkan data sebagai landasan pengambilan keputusan bisnis.

“Sensor dan IoT adalah fondasi utamanya, dan dalam 10 tahun ke depan, bahkan mungkin lebih cepat, teknologi tersebut akan dianggap sebagai kebutuhan mendasar, sama halnya dengan listrik di era sekarang,” kata Prest.

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan data ini, korporasi juga perlu mengadopsi teknologi pendukung lainnya seperti komputasi awan (cloud), penyimpanan awan, analitik data, machine learning, serta kecerdasan buatan (AI).

“Tidak ada satu teknologi pun yang dapat berdiri sendiri secara terpisah,” terang Boykin. “Teknologi AI, yang penerapannya kini semakin masif, akan menjadi motor penggerak utama perubahan selama 10 tahun mendatang, namun kinerjanya tetap bergantung pada bantuan teknologi penunjang lainnya.” AI, analitik prediktif, dan analitik preskriptif merupakan bagian puncak dari hierarki sistem ini, yang kinerjanya ditopang oleh proses pengumpulan, transmisi, pembagian, serta analisis data.

Sepuluh tahun dari sekarang, biaya investasi untuk teknologi AI dan sistem pendukungnya diproyeksikan akan semakin terjangkau, sehingga dapat diterapkan oleh bisnis dari segala skala usaha, tambah Boykin. Mereka nantinya akan mengandalkan analitik prediktif untuk memproyeksikan estimasi masa depan dan analitik preskriptif guna menentukan langkah strategis apa yang harus diambil guna menyikapi proyeksi tersebut.

“Peran teknologi AI masuk di sini karena tidak semua keputusan taktis harus dieksekusi secara manual oleh pekerja,” tambah Boykin. Sebagian keputusan bisnis akan diambil secara otomatis oleh sistem AI, yang telah diprogram untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut melalui integrasi mesin dan komputer, tanpa perlu bergantung pada instruksi atau interpretasi manusia.

5. Implementasi konsep Unichannel

Pelaku ritel yang ingin tetap kompetitif di dekade mendatang wajib meningkatkan model bisnis mereka dari sekadar omnichannel menjadi unichannel, menurut penuturan Jim Tompkins, komisaris sekaligus CEO dari Tompkins International yang juga merupakan anggota MHI.

Saat ini masih banyak perusahaan yang mengoperasikan sistem inventaris serta manajemen berbeda antara pelanggan fisik (offline) dan pelanggan daring (online), atau memisahkan sistem untuk pusat distribusi, pusat pemenuhan pesanan, pusat retur, serta unit likuidasi produk. Konsep unichannel—singkatan dari unified channels—mengintegrasikan seluruh informasi inventaris peritel serta riwayat interaksi dengan pelanggan daring maupun fisik, mulai dari aktivitas pencarian, pembelian, hingga pengembalian barang, ke dalam satu sistem manajemen terpadu. Hal ini memungkinkan jaringan ritel menghadirkan pengalaman berbelanja yang konsisten dan praktis bagi konsumen, baik ketika membeli maupun meretur barang secara daring, langsung di toko, atau melalui kombinasi keduanya.

Melalui pendekatan unichannel, peritel dapat membagikan informasi ketersediaan inventaris di seluruh portofolio merek mereka, lalu memanfaatkan data tersebut demi mempercepat pemenuhan pesanan dari situs web yang menyasar segmentasi pelanggan tertentu.

Unichannel juga menyajikan metrik berharga bagi pelaku ritel mengenai preferensi cara belanja pelanggan mereka. Sebagai contoh, toko fisik mungkin menawarkan paket berisi empat mainan figur aksi, sementara toko daring dan pusat likuidasi menjual figur yang sama secara satuan. Bermodalkan akses data yang terintegrasi dari ketiga lini tersebut, peritel dapat dengan mudah memetakan karakter mana yang paling diminati untuk kemudian disesuaikan dengan volume pemesanan stok berikutnya.

6. Visibilitas menyeluruh dari hulu ke hilir

Aspek visibilitas dalam industri rantai pasok kini menjadi kian krusial seiring upaya korporasi membangun sistem pertukaran data serta kolaborasi yang solid bersama para pemasok dan mitra bisnis mereka. Di sisi lain, konsumen saat ini juga menuntut transparansi informasi, tidak hanya sebatas status pengiriman barang mereka, melainkan juga terkait asal-usul produk yang mereka beli dari pasar. Berdasarkan latar belakang tersebut, dalam waktu dekat, visibilitas end-to-end akan menjadi standar layanan minimum sekaligus instrumen pembeda utama bagi sebuah merek dari para kompetitornya.

“Teknologi blockchain akan menjadi kunci penting dari hal ini,” jelas Prest. “Tiga atau empat tahun yang lalu, ketika terjadi kasus kontaminasi bakteri E. coli pada selada, Walmart membutuhkan waktu hingga 10 hari melacak area perkebunan asal komoditas tersebut. Selama proses penyelidikan berlangsung, mereka terpaksa menghentikan seluruh operasional penjualan selada.

“Namun saat insiden serupa terulang kembali musim gugur lalu, mereka sukses melacak sumber masalahnya hanya dalam hitungan dua detik saja karena telah menerapkan teknologi blockchain. Efektivitas ini memberikan dampak penyelamatan finansial yang sangat signifikan bagi perusahaan,” tuturnya.

Ke depannya, para pelaku usaha harus mulai meninggalkan kebiasaan menutup-nutupi informasi bisnis mereka dan beralih ke pola operasional yang lebih kolaboratif dan transparan. “Berdasarkan pengalaman saya, semakin erat kemitraan kolaboratif yang Anda bangun, maka semakin sukses pula bisnis semua pihak yang terlibat di dalamnya,” kata Prest.

7. Fasilitas distribusi pintar

Saat biaya operasional masih mendominasi pengeluaran logistik, perusahaan cenderung memilih fasilitas gudang besar terotomatisasi sebagai pusat konsolidasi seluruh pesanan gudang. Setelah itu, muncul tren pergeseran ke arah pembangunan fasilitas regional demi mendekatkan lokasi penyimpanan dengan domisili pelanggan.

Kini, perilaku belanja konsumen telah bergeser ke arah e-commerce dan mereka mengharapkan durasi pengiriman barang yang lebih cepat. Tren tersebut diprediksi akan terus menguat bahkan setelah masa karantina pandemi COVID-19 usai.

Menyikapi fenomena ini, perusahaan sekarang mulai melirik apa yang diistilahkan oleh Deloitte Consulting sebagai pusat distribusi perkotaan pintar (smart city distribution facilities). Berlokasi di dalam atau di batas luar perkotaan, pusat distribusi (DC) ini akan berukuran lebih ringkas dengan bangunan bertingkat karena keterbatasan dan mahalnya harga lahan perkotaan, jelas Boykin. Aktivitas pengisian kembali stok barang di fasilitas ini akan dijadwalkan di luar jam sibuk saat lalu lintas lengang, dan sebagian pengiriman pesanan kemungkinan dilakukan dengan armada trailer swakemudi (autonomous tractor).

Implikasi dari situasi pandemi COVID-19 juga turut memengaruhi pergeseran ini. Apabila tren bekerja dari rumah (WFH) yang dipicu oleh aturan pembatasan COVID-19 terus berlanjut dalam jangka panjang, ruang perkantoran yang mulai ditinggalkan pekerja dapat dialihfungsikan menjadi pusat distribusi pintar perkotaan guna mengoptimalkan layanan pengiriman belanja e-commerce di wilayah-wilayah strategis tersebut.

8. Penerapan robotika untuk kustomisasi produk

“Salah satu tantangan industri rantai pasok yang kami amati dalam beberapa dekade mendatang adalah semakin tingginya permintaan terhadap kustomisasi produk,” ucap Melonee Wise, CEO dari Fetch Robotics yang juga merupakan anggota MHI. “Masyarakat kini lebih menyukai barang-barang personal berskala produksi kecil, dan kehadiran teknologi robotika yang bervariasi sangat membantu mewujudkan fleksibilitas kustomisasi tersebut.”

Mengingat konsumen mendambakan pengiriman produk yang cepat, proses kustomisasi semacam ini kemungkinan besar akan dilakukan di tingkat lokal, tepatnya di dalam pusat-pusat distribusi berukuran kecil, alih-alih di pabrik manufaktur skala besar. Sistem otomasi kecil ini nantinya akan dioperasikan untuk memodifikasi atau memberikan sentuhan personal pada berbagai jenis produk, mulai dari bantal tidur, sweter, cangkir kopi, hingga aksesori meja kerja.

Kehadiran mesin cetak 3D (3D printer) juga akan menjadi bagian dari sistem otomasi di pusat distribusi lokal ini, siap memproduksi komponen suku cadang peralatan rumah tangga yang jarang dipesan atau membuat perangkat medis khusus yang bersifat personal.

9. Efek limpahan pandemi

Terlepas dari berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai penyebaran COVID-19 benar-benar terkendali, dampak susulan dari virus ini akan terus membayangi kinerja industri rantai pasok global sepanjang dekade mendatang.

Prest meyakini bahwa perusahaan yang sebelumnya terlalu bergantung pada satu jalur rantai pasok tunggal di satu negara saja (seperti Tiongkok) akan mulai berbenah menjadi lebih fleksibel, salah satunya dengan membangun sistem cadangan melalui skema operasional dekat pantai (near-shore).

Pandemi juga diproyeksikan mempercepat adopsi sistem otomasi dan robotika. Beberapa minggu setelah virus corona merebak di wilayah AS, di saat pusat-pusat distribusi berjuang meminimalkan risiko penularan penyakit di antara staf mereka, integrasi sistem otomatis hadir menawarkan solusi operasional yang efektif.

“Kami melihat banyak klien mulai memberdayakan teknologi robot untuk menerapkan pembatasan jarak fisik antarpekerja dengan tetap mempertahankan kapasitas output produksi yang sama,” ungkap Wise. “Menurut saya, tantangan terbesarnya ditekankan pada berapa lama waktu yang diperlukan bagi pelaku industri untuk menerapkan teknologi baru ini sekaligus beradaptasi dengan perubahan masif akibat efek jangka panjang COVID-19. Bagi korporasi yang bergerak dinamis, masa transisi ini mungkin memakan waktu dua hingga tiga tahun; sementara bagi korporasi yang lambat merespons, prosesnya bisa memakan waktu antara lima hingga 10 tahun.”

10. Fase "the next normal"

Banyak orang membicarakan istilah “the new normal” pascapandemi, padahal seharusnya mereka bersiap menghadapi fase “the next normal”, tutur Tompkins. Lebih dari era sebelumnya, konsep VUCA—volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity—akan memberikan dampak yang sangat besar pada industri rantai pasok serta tatanan dunia secara global. Perubahan yang terjadi secara terus-menerus akan menjadi hal yang lumrah.

Istilah VUCA pada awalnya banyak digunakan untuk menggambarkan pesatnya laju inovasi akibat hadirnya teknologi digital. “Kini kita menyadari bahwa disrupsi terbagi menjadi dua kategori utama; yaitu disrupsi inovasi dan disrupsi krisis,” tambah Tompkins.

Volume transaksi e-commerce sejatinya telah tumbuh pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya bahkan sebelum krisis kesehatan global melanda. “Sekarang, aktivitas belanja bahan makanan secara daring meroket dari semula 2% menjadi 20% hanya dalam kurun waktu satu bulan, dan masyarakat mulai menyukai kepraktisan metode ini. Jadi, tren pertumbuhan e-commerce dan situasi pandemi kini bertransisi secara bersamaan,” imbuhnya.

“Fenomena yang akan kita saksikan kelak adalah kondisi VUCA dalam skala yang jauh lebih ekstrem,” kata Tompkins. “Konsep VUCA akan menjadi realitas utama yang mendominasi jalannya industri.”

Meskipun sistem rantai pasok pada tahun 2030 mendatang masih mempertahankan beberapa elemen dasar yang kita gunakan saat ini, akan ada banyak sekali perubahan yang terjadi. “Sistemnya akan jauh lebih modern, ukuran fasilitas penyimpanan akan lebih compact, teknologi pendukung akan lebih terintegrasi dan mulus, serta para pekerja akan lebih terhubung satu sama lain,” pungkas Boykin. “Seluruh proses akan berjalan secara harmonis dan tersinkronisasi, di mana setiap mata rantai akan saling bertukar informasi digital secara real-time. Perusahaan nantinya akan bersaing pada level kompetisi yang sama sekali baru dibanding sekarang.”

Sumber: www.mhisolutions-digital.com oleh MARY LOU JAY

Perubahan signifikan pada teknologi dan tren akan mendisrupsi rantai pasok yang kita ketahui selama ini.

Berbagai peristiwa dalam beberapa bulan terakhir memperjelas betapa tidak mudah memprediksi seperti apa rantai pasok satu tahun yang akan datang, apalagi dalam kurun waktu 10 tahun dari sekarang. Di luar ketidakpastian tersebut, bagaimanapun, ada beberapa teknologi dan tren yang akan membentuk rantai pasok selagi kita memasuki dekade berikutnya. Berikut merupakan 10 contohnya.

1. Tenaga kerja yang beragam dengan keterampilan berbeda

“Jika Anda membandingkan tenaga kerja saat ini dengan 10 tahun yang lalu, ada perubahan yang sangat besar. Memang tidak mudah bagi orang-orang untuk memahami jenis pekerjaan baru seperti apa yang akan muncul 10 tahun mendatang,” kata George Prest, CEO MHI. “Tetapi saya tahu keahlian seperti apa yang nantinya mutlak diperlukan. Berpikir kritis akan menjadi aspek utama, dan setiap individu harus bersedia lebih mudah beradaptasi serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, karena pekerjaan akan berubah dengan tempo yang jauh lebih cepat.”

Sistem pendidikan harus disesuaikan demi melahirkan calon pekerja yang dibutuhkan oleh industri rantai pasok, ujarnya. “Namun, dunia korporasi juga wajib bergerak dengan gesit. Apabila perusahaan ingin mempertahankan talenta terbaik mereka, perusahaan mutlak perlu terus menyediakan peluang pengembangan diri bagi karyawannya.”

Lingkungan kerja pada tahun 2030 akan menjadi lebih bernuansa digital dan inovatif demi memastikan angkatan kerja lintas lima generasi dapat berkolaborasi secara optimal, papar Thomas Boykin, spesialis rantai pasok dan operasi jaringan dari Deloitte Consulting. Generasi muda mengharapkan kehadiran teknologi dan inovasi di tempat kerja yang mutakhir seperti halnya di rumah mereka. Sementara itu, pekerja yang lebih senior membutuhkan teknologi dengan antarmuka yang intuitif demi menunjang produktivitas dan efisiensi kerja mereka. Robotika nantinya akan berkolaborasi erat dengan para pekerja ini untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas yang lebih penting dengan memangkas pekerjaan yang repetitif dan menuntut kekuatan fisik.

2. Peningkatan pemanfaatan teknologi VR

Perusahaan akan menerapkan teknologi virtual reality (VR) untuk melatih angkatan kerja yang terdiri dari berbagai generasi ini.

“Ada perbedaan dalam cara generasi muda belajar jika dibandingkan dengan metode pembelajaran 40 atau 50 tahun silam. Metode pelatihan harus dibuat lebih fleksibel dan terintegrasi dengan teknologi agar efektivitasnya lebih maksimal,” imbuh Boykin.

Sebagai gambaran, penggunaan VR untuk melatih operator forklift akan menekan potensi cedera pada pekerja dan meminimalisasi kerusakan produk. Di era sekarang, calon pekerja umumnya langsung diberi kunci unit setelah melalui beberapa jam pembekalan teori di kelas. “Mereka langsung mengemudi, menabrak barang, dan baru mahir seiring berjalannya waktu. Tetapi selama proses belajar tersebut, mereka kerap memicu kerugian,” tambah Boykin. “Ke depannya, seluruh kegiatan pelatihan ini akan dilakukan dengan sarana VR. Pengalamannya akan terasa sangat nyata sehingga pekerja dapat berlatih tanpa risiko merusak inventaris fisik. Metode ini juga terbukti efektif meningkatkan rasa percaya diri mereka.”

3. Mengoptimalkan potensi otak

Seseorang yang mengalami stres atau kelelahan ekstrem mustahil dapat fokus bekerja, sehingga performa mereka menurun dan bahkan membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang di sekitarnya. Dalam 10 tahun ke depan, kemajuan di bidang neuroteknologi diprediksi dapat membantu pekerja memantau kinerja kognitif serta kondisi emosional guna menganalisis secara ilmiah kapan kondisi tubuh mereka mulai menurun dan butuh beristirahat.

Sains neuroteknologi berakar pada ilmu neurologi, yang mempelajari cara sistem saraf memengaruhi perilaku manusia. Implementasi teknologi modern ini bahkan sudah mulai diterapkan di lingkungan kerja. Salah satu perusahaan penyedia neuroteknologi, Emotiv, telah merancang antarmuka otak-komputer yang mampu memantau tingkat stres dan atensi pekerja secara real-time. Pihak manajemen dapat memanfaatkan data tersebut untuk merancang program keselamatan dan kesejahteraan yang tepat ketika tingkat konsentrasi karyawan mulai menurun saat bekerja.

“Banyak insiden kecelakaan terjadi akibat hilangnya konsentrasi dan kondisi stres pekerja,” ujar Olivier Oullier, direktur utama Emotiv. Bayangkan, misalnya, seorang operator forklift yang kelelahan tengah memindahkan kontainer berisi bahan biokimia berbahaya di area gudang. Kelengahan atau hilangnya fokus sesaat saja dapat memicu kesalahan fatal yang mengancam nyawa. Tragedi semacam itu sejatinya dapat dihindari apabila karyawan tersebut dibekali dengan teknologi pemantau aktivitas otak.

Pekerja kantor yang memantau tingkat stres dan konsentrasi mereka akan tahu persis kapan waktu yang tepat untuk beristirahat saat fokus mereka menurun. “Hal ini tidak hanya menjaga kesehatan karyawan tetapi juga mendukung produktivitas kerja karena mereka memiliki kesempatan untuk memulihkan energi,” kata Oullier.

Neuroteknologi juga menawarkan alternatif baru interaksi antara manusia dengan mesin. Perangkat dan algoritme machine-learning dari Emotiv mampu mengonversi gelombang otak menjadi sinyal digital guna mengoperasikan instrumen virtual maupun fisik, seperti keyboard komputer. Hal ini berpotensi membuka lapangan pekerjaan baru yang lebih luas bagi penyandang disabilitas di sektor industri rantai pasok.

4. Memperoleh Insight berharga melalui integrasi teknologi

Memasuki dekade selanjutnya, pelaku usaha dituntut lebih cakap dalam mengumpulkan sekaligus memanfaatkan data sebagai landasan pengambilan keputusan bisnis.

“Sensor dan IoT adalah fondasi utamanya, dan dalam 10 tahun ke depan, bahkan mungkin lebih cepat, teknologi tersebut akan dianggap sebagai kebutuhan mendasar, sama halnya dengan listrik di era sekarang,” kata Prest.

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan data ini, korporasi juga perlu mengadopsi teknologi pendukung lainnya seperti komputasi awan (cloud), penyimpanan awan, analitik data, machine learning, serta kecerdasan buatan (AI).

“Tidak ada satu teknologi pun yang dapat berdiri sendiri secara terpisah,” terang Boykin. “Teknologi AI, yang penerapannya kini semakin masif, akan menjadi motor penggerak utama perubahan selama 10 tahun mendatang, namun kinerjanya tetap bergantung pada bantuan teknologi penunjang lainnya.” AI, analitik prediktif, dan analitik preskriptif merupakan bagian puncak dari hierarki sistem ini, yang kinerjanya ditopang oleh proses pengumpulan, transmisi, pembagian, serta analisis data.

Sepuluh tahun dari sekarang, biaya investasi untuk teknologi AI dan sistem pendukungnya diproyeksikan akan semakin terjangkau, sehingga dapat diterapkan oleh bisnis dari segala skala usaha, tambah Boykin. Mereka nantinya akan mengandalkan analitik prediktif untuk memproyeksikan estimasi masa depan dan analitik preskriptif guna menentukan langkah strategis apa yang harus diambil guna menyikapi proyeksi tersebut.

“Peran teknologi AI masuk di sini karena tidak semua keputusan taktis harus dieksekusi secara manual oleh pekerja,” tambah Boykin. Sebagian keputusan bisnis akan diambil secara otomatis oleh sistem AI, yang telah diprogram untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut melalui integrasi mesin dan komputer, tanpa perlu bergantung pada instruksi atau interpretasi manusia.

5. Implementasi konsep Unichannel

Pelaku ritel yang ingin tetap kompetitif di dekade mendatang wajib meningkatkan model bisnis mereka dari sekadar omnichannel menjadi unichannel, menurut penuturan Jim Tompkins, komisaris sekaligus CEO dari Tompkins International yang juga merupakan anggota MHI.

Saat ini masih banyak perusahaan yang mengoperasikan sistem inventaris serta manajemen berbeda antara pelanggan fisik (offline) dan pelanggan daring (online), atau memisahkan sistem untuk pusat distribusi, pusat pemenuhan pesanan, pusat retur, serta unit likuidasi produk. Konsep unichannel—singkatan dari unified channels—mengintegrasikan seluruh informasi inventaris peritel serta riwayat interaksi dengan pelanggan daring maupun fisik, mulai dari aktivitas pencarian, pembelian, hingga pengembalian barang, ke dalam satu sistem manajemen terpadu. Hal ini memungkinkan jaringan ritel menghadirkan pengalaman berbelanja yang konsisten dan praktis bagi konsumen, baik ketika membeli maupun meretur barang secara daring, langsung di toko, atau melalui kombinasi keduanya.

Melalui pendekatan unichannel, peritel dapat membagikan informasi ketersediaan inventaris di seluruh portofolio merek mereka, lalu memanfaatkan data tersebut demi mempercepat pemenuhan pesanan dari situs web yang menyasar segmentasi pelanggan tertentu.

Unichannel juga menyajikan metrik berharga bagi pelaku ritel mengenai preferensi cara belanja pelanggan mereka. Sebagai contoh, toko fisik mungkin menawarkan paket berisi empat mainan figur aksi, sementara toko daring dan pusat likuidasi menjual figur yang sama secara satuan. Bermodalkan akses data yang terintegrasi dari ketiga lini tersebut, peritel dapat dengan mudah memetakan karakter mana yang paling diminati untuk kemudian disesuaikan dengan volume pemesanan stok berikutnya.

6. Visibilitas menyeluruh dari hulu ke hilir

Aspek visibilitas dalam industri rantai pasok kini menjadi kian krusial seiring upaya korporasi membangun sistem pertukaran data serta kolaborasi yang solid bersama para pemasok dan mitra bisnis mereka. Di sisi lain, konsumen saat ini juga menuntut transparansi informasi, tidak hanya sebatas status pengiriman barang mereka, melainkan juga terkait asal-usul produk yang mereka beli dari pasar. Berdasarkan latar belakang tersebut, dalam waktu dekat, visibilitas end-to-end akan menjadi standar layanan minimum sekaligus instrumen pembeda utama bagi sebuah merek dari para kompetitornya.

“Teknologi blockchain akan menjadi kunci penting dari hal ini,” jelas Prest. “Tiga atau empat tahun yang lalu, ketika terjadi kasus kontaminasi bakteri E. coli pada selada, Walmart membutuhkan waktu hingga 10 hari melacak area perkebunan asal komoditas tersebut. Selama proses penyelidikan berlangsung, mereka terpaksa menghentikan seluruh operasional penjualan selada.

“Namun saat insiden serupa terulang kembali musim gugur lalu, mereka sukses melacak sumber masalahnya hanya dalam hitungan dua detik saja karena telah menerapkan teknologi blockchain. Efektivitas ini memberikan dampak penyelamatan finansial yang sangat signifikan bagi perusahaan,” tuturnya.

Ke depannya, para pelaku usaha harus mulai meninggalkan kebiasaan menutup-nutupi informasi bisnis mereka dan beralih ke pola operasional yang lebih kolaboratif dan transparan. “Berdasarkan pengalaman saya, semakin erat kemitraan kolaboratif yang Anda bangun, maka semakin sukses pula bisnis semua pihak yang terlibat di dalamnya,” kata Prest.

7. Fasilitas distribusi pintar

Saat biaya operasional masih mendominasi pengeluaran logistik, perusahaan cenderung memilih fasilitas gudang besar terotomatisasi sebagai pusat konsolidasi seluruh pesanan gudang. Setelah itu, muncul tren pergeseran ke arah pembangunan fasilitas regional demi mendekatkan lokasi penyimpanan dengan domisili pelanggan.

Kini, perilaku belanja konsumen telah bergeser ke arah e-commerce dan mereka mengharapkan durasi pengiriman barang yang lebih cepat. Tren tersebut diprediksi akan terus menguat bahkan setelah masa karantina pandemi COVID-19 usai.

Menyikapi fenomena ini, perusahaan sekarang mulai melirik apa yang diistilahkan oleh Deloitte Consulting sebagai pusat distribusi perkotaan pintar (smart city distribution facilities). Berlokasi di dalam atau di batas luar perkotaan, pusat distribusi (DC) ini akan berukuran lebih ringkas dengan bangunan bertingkat karena keterbatasan dan mahalnya harga lahan perkotaan, jelas Boykin. Aktivitas pengisian kembali stok barang di fasilitas ini akan dijadwalkan di luar jam sibuk saat lalu lintas lengang, dan sebagian pengiriman pesanan kemungkinan dilakukan dengan armada trailer swakemudi (autonomous tractor).

Implikasi dari situasi pandemi COVID-19 juga turut memengaruhi pergeseran ini. Apabila tren bekerja dari rumah (WFH) yang dipicu oleh aturan pembatasan COVID-19 terus berlanjut dalam jangka panjang, ruang perkantoran yang mulai ditinggalkan pekerja dapat dialihfungsikan menjadi pusat distribusi pintar perkotaan guna mengoptimalkan layanan pengiriman belanja e-commerce di wilayah-wilayah strategis tersebut.

8. Penerapan robotika untuk kustomisasi produk

“Salah satu tantangan industri rantai pasok yang kami amati dalam beberapa dekade mendatang adalah semakin tingginya permintaan terhadap kustomisasi produk,” ucap Melonee Wise, CEO dari Fetch Robotics yang juga merupakan anggota MHI. “Masyarakat kini lebih menyukai barang-barang personal berskala produksi kecil, dan kehadiran teknologi robotika yang bervariasi sangat membantu mewujudkan fleksibilitas kustomisasi tersebut.”

Mengingat konsumen mendambakan pengiriman produk yang cepat, proses kustomisasi semacam ini kemungkinan besar akan dilakukan di tingkat lokal, tepatnya di dalam pusat-pusat distribusi berukuran kecil, alih-alih di pabrik manufaktur skala besar. Sistem otomasi kecil ini nantinya akan dioperasikan untuk memodifikasi atau memberikan sentuhan personal pada berbagai jenis produk, mulai dari bantal tidur, sweter, cangkir kopi, hingga aksesori meja kerja.

Kehadiran mesin cetak 3D (3D printer) juga akan menjadi bagian dari sistem otomasi di pusat distribusi lokal ini, siap memproduksi komponen suku cadang peralatan rumah tangga yang jarang dipesan atau membuat perangkat medis khusus yang bersifat personal.

9. Efek limpahan pandemi

Terlepas dari berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai penyebaran COVID-19 benar-benar terkendali, dampak susulan dari virus ini akan terus membayangi kinerja industri rantai pasok global sepanjang dekade mendatang.

Prest meyakini bahwa perusahaan yang sebelumnya terlalu bergantung pada satu jalur rantai pasok tunggal di satu negara saja (seperti Tiongkok) akan mulai berbenah menjadi lebih fleksibel, salah satunya dengan membangun sistem cadangan melalui skema operasional dekat pantai (near-shore).

Pandemi juga diproyeksikan mempercepat adopsi sistem otomasi dan robotika. Beberapa minggu setelah virus corona merebak di wilayah AS, di saat pusat-pusat distribusi berjuang meminimalkan risiko penularan penyakit di antara staf mereka, integrasi sistem otomatis hadir menawarkan solusi operasional yang efektif.

“Kami melihat banyak klien mulai memberdayakan teknologi robot untuk menerapkan pembatasan jarak fisik antarpekerja dengan tetap mempertahankan kapasitas output produksi yang sama,” ungkap Wise. “Menurut saya, tantangan terbesarnya ditekankan pada berapa lama waktu yang diperlukan bagi pelaku industri untuk menerapkan teknologi baru ini sekaligus beradaptasi dengan perubahan masif akibat efek jangka panjang COVID-19. Bagi korporasi yang bergerak dinamis, masa transisi ini mungkin memakan waktu dua hingga tiga tahun; sementara bagi korporasi yang lambat merespons, prosesnya bisa memakan waktu antara lima hingga 10 tahun.”

10. Fase "the next normal"

Banyak orang membicarakan istilah “the new normal” pascapandemi, padahal seharusnya mereka bersiap menghadapi fase “the next normal”, tutur Tompkins. Lebih dari era sebelumnya, konsep VUCA—volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity—akan memberikan dampak yang sangat besar pada industri rantai pasok serta tatanan dunia secara global. Perubahan yang terjadi secara terus-menerus akan menjadi hal yang lumrah.

Istilah VUCA pada awalnya banyak digunakan untuk menggambarkan pesatnya laju inovasi akibat hadirnya teknologi digital. “Kini kita menyadari bahwa disrupsi terbagi menjadi dua kategori utama; yaitu disrupsi inovasi dan disrupsi krisis,” tambah Tompkins.

Volume transaksi e-commerce sejatinya telah tumbuh pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya bahkan sebelum krisis kesehatan global melanda. “Sekarang, aktivitas belanja bahan makanan secara daring meroket dari semula 2% menjadi 20% hanya dalam kurun waktu satu bulan, dan masyarakat mulai menyukai kepraktisan metode ini. Jadi, tren pertumbuhan e-commerce dan situasi pandemi kini bertransisi secara bersamaan,” imbuhnya.

“Fenomena yang akan kita saksikan kelak adalah kondisi VUCA dalam skala yang jauh lebih ekstrem,” kata Tompkins. “Konsep VUCA akan menjadi realitas utama yang mendominasi jalannya industri.”

Meskipun sistem rantai pasok pada tahun 2030 mendatang masih mempertahankan beberapa elemen dasar yang kita gunakan saat ini, akan ada banyak sekali perubahan yang terjadi. “Sistemnya akan jauh lebih modern, ukuran fasilitas penyimpanan akan lebih compact, teknologi pendukung akan lebih terintegrasi dan mulus, serta para pekerja akan lebih terhubung satu sama lain,” pungkas Boykin. “Seluruh proses akan berjalan secara harmonis dan tersinkronisasi, di mana setiap mata rantai akan saling bertukar informasi digital secara real-time. Perusahaan nantinya akan bersaing pada level kompetisi yang sama sekali baru dibanding sekarang.”

Sumber: www.mhisolutions-digital.com oleh MARY LOU JAY

otak 3d putih untuk keselamatan kesejahteraan dan produktivitas

Lanjutkan membaca

Sebuah langkah maju dalam pencarian zaman (epoch) yang dirancang untuk EEG seluler bagi studi psikofisiologis